Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Showing posts with label coretan pakde. Show all posts
Showing posts with label coretan pakde. Show all posts

Tengok Gubug......

3 comments
Ohhh....sudah lama sekali pakde tidak pernah nengok gubuk ini. Entah tiga atau empat tahun yang lalu pakde nulis posting yang terakhir. Sebenarnya kangen sih...cuma kebetulan kegiatan offline yang tak bisa diganngu....waduhhh kayak orang super sibuk aja  he he he..

Sebenarnya sih bukan sibuk yang luar biasa ....(malu nih untuk mengatakan yang sebenarya)...sebenarnya pakde lagi gak dapat jatah internet dari kantor. Maklumlah pakde hanyalah pejabat teras....pejabat yang tiap harintya berada di teras he he he......jadi kalau harus beli pulsa untuk data internet.... bisa gak beli bbm untuk motor butut kesayangan he he he...

Hari ini masih dalam edisi tengok tengok gubug  he he he.....mungkin harus bersih bersih dan benah benah dulu....
Read more

Cak Nono dan Hand Phone Putranya

2 comments
Dilahatnya jam dinding, Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.“Kampung sudah sepi, sudah tidak ada tanda tanda kehidupan, mending lapak aku tutup saja”, kata Cak Nono dalam hati.

Suasa kampung cak Nono, sekarang memang sangat jauh berbeda sembilan puluh derajat dengan suasana beberapa tahun yang lalu. Dahulu kampung cak Nono merupakan daerah lokalisasi yang cukup ternama, yang selalu ramai baik siang atau malam, bahkan tidak ada bedanya kehidupan disiang atau malam hari.  Karena kegigihan sang Walikota, tempat itu sekarang telah ditutup. Kampung itu sekarang sepi dan damai, sudah tidak ada lagi orang mabuk-mabukan dijalanan atau sekelompok orang tawuran.

“ Nak sudah sholat?’ tanya cak Nono pada putranya yang sedang asyik nonton tv. Putra cak Nono masih duduk di kelas delapan.

“Sudah Yah”, jawan sang putra.

“Ayo Nak, tidur, sudah malam, besok sekolah”, kata cak Nono pada putranya.

“Ya, Ayah”, Kemudian putra cak Nono berjalan menuju kamar mandi, untuk sikat gigi dan cuci kaki.

“Ayo, Ayah antar ke kamarmu”, kata cak Nono lemah lembut pada putra. Kemudian mereka berdua menaiki tangga ke lantai atas.

“Persiapkan buku-buku , dan perlengkapan alat tulisnya Ya, Nak”, Kata Cak Nono pada putranya.

“Ya, Ayah”, kata putra cak Nono, kemudian dengan segera menyiapkan buku buku pelajaran untu hari besok. Sedang Cak Nono setia menunggu putranya mempersiapkan kelengkapan sekolahnya.

“Sudah Ayah”, kata putra cak Nono, yang sudah selesai mempersiapkan untuk hari besok.

“Assalamu’alaikum”, cak Nono memberikan salam pada putranya, kemudian bergegas meninggalkan kamar putrana.

Cak Nono tidak langsung tidur, dia masih sibuk mempersiapkan  barang -barang dagangan. Tiba tiba terdengan suara barang jatuh dari lantai atas. Seketika dia menoleh kearah datangnya suara.

“Inalilahi wainailaihi rojiuun.......”, Cak Nono kaget, dan terbelalak matanya, ternyata yang jatuh adalah sebuah hand phone. “Itukan hand phone putraku”, kata hati cak Nono.

Tak seberapa lama kemudian putra cak Nono turun, sambil menangis. “Maaf Ayah, hand phone ku jatuh”, kata putra cak Nono, suaranya agak tidak jelas, karena berkata sambil menangis.

“ Kenapa bisa jatuh Nak?”, tanya cak Nono, dengan suara lembut, tidak menunjukkan kemarahan

“Waktu aku mau tidur , aku lihat bateraynya mau habis, kemusdian hand phonenya aku charge Ayah, tanpa sengaja kabelnya tertarik kakiku , akhirnya jatuh” anak cak Nono menjelaskan kronologis jatuhnya hand phone, masih dengan tangisnya tersedu .

“Coba lihat, handphone rusak apa tidak”, kata cak Nono pada anaknya. Kemudian putranya mengambil hand phone yang telah jatuh itu, dilihatnya dengan seksama.

“Layarnya pecah Yah”, kata cak Nono masih menangis, sepertinya masih takut dimarahi.

“Bawa kemari Nak”, cak Nono meminta hand phone dibawa kepadanya, setelah hand phone diterima, cak Nono kemudian memeriksa dengan seksama.

“Kelihatannya sudah tidak bisa diperbaiki”, kata Cak Nono.

“Terus aku pakai apa Yah”, tanya putra cak Nono.

“Sementara pakai punya ayah dulu, biar ayah pakai hand phone yang lama”, jawab cak Nono.

“Nanti bila ada rejeki,  nanti ayah belikan yang baru, maukan pakai pakai hand phone punya ayah?”, tanya cak Nono.

“Enggak apa apa Ayah“, jawab putranya.

“Ayo, Sekarang kamu tidur”, biar tidak terlambat bangun.

Kemudian putra cak Nono naik ke lantai atas, cak Nono kembali menemani putranya sampai masuk kamar.


Read more

Cak Nono dan Mesin Cuci

0 comments
“Ternyata mencuci dengan mesin cuci gak bisa bersih “, tiba tiba cak Nono memecah keheningan. Saat itu cak Nono dan kawannya sedang  duduk santai, saat waktu beristirahat, di mushola tempat mereka bekerja.

“Sampean  pake mesin cuci tah Cak?”, sang kawan bertanya  pada cak Nono.

“Iya cak, tapi kok hasilnya kok “mblekethek”, cak nono mengeluh

“Cucian yang berwarna, dan dan yang putih sampean pisah tah?”, tanya sang kawan

“Enggak...., ya dicampur Cak”, jawab cak Nono.

“Nahhh..., kalo mencuci itu pakaian yang berwarna dan yang warna putih itu harus dipisah Cak, kalo gak dipisah kotorannya bisa membuat yang putih menjadi kusam”, sang kawan menjelaskan

“Ooo...begitu ya?”, kata cak Nono, tetapi sepertinya belum mengerti.

“Sampean kalau mencuci dengan mesin cuci, pakaian yang kotornya bandel harus disikat dahulu. Misalnya leher, lengan harus disikat dahulu agar kotorannya, baru dicuci dengan mesin cuci”. Sang kawan menjelaskan cara mencuci dengan mesin cuci.

“Kan menjadi percuma membeli mesin cuci”, kata cak Nono berdalih

“Ya tidak percuma Cak, mesin cuci diciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia”, bantah sang kawan.

“Dengan mesin cuci, cucian tinggal dimasukan ke dalam mesin cuci, setelah itu bisa ditinggal untu mengerjakan pekerjaan yang lain kan, misal masak, menyapu dan yang lainnya. Coba  kalau mencuci secara konvensional, ya tidak bisa ditinggal - tinggal, kalu bisa setiap mencuci, semua harus direndam dulu, mesin cuci kan bisa diprogram ’rendam”, sang awan menjelaskan kelebihan menggunakan mesin cuci

“Kalau itu aku sudah mengerti Cak, mangkanya aku beli mesin cuci biar istriku gak capek”, kata cak Nono.

“Aku beli mesin cuci itu karena kasihan melihat istriku, yang capek mengurus anak, dan pekerjaan rumah yang lain”, kata cak Nono menjelaskan alasan dia membeli mesin cuci.

“Yang menjadi masalah itu, setelah lama aku perhatikan, pakaian kami kelihatan agak lebih ‘kumal’ dari sebelumnya”. Jelas cak Nono.

“Hasil gak memuaskan itu kan karena sampean salah dalam menggunakannya”, kata sang Kawan.

“Iya cak, rupanya selama ini kami salah dalam cara mencuci dengan mesin cuci, sekarang aku sudah tahu cara yang benar dalam mencuci”,  aku cak Nono.

“Suwun loh Cak”, kata Cak Nono.

“Alahhh... gitu saja, pake suwun segala”, kata sang kawan sambil tertawa.

Cak Nono cuma tersenyum simpul
Read more

Raisopopo mung Kerjo

0 comments
Raisopopo mung Kerjo


Katamu
Sejuta harapan
mimpi tanpa kenyataan
dendam yang harus terus ditabuhkan

Hanya bisa kujawab dengan Kerja
Aku memilih kerja
daripada bermain kata

Masih 2 tahun, kuhanya bisa
mengajak rakyat bekerja

Sehingga

Papua dalam benderang dan
kemudahan
Sumatra saling terhubung dan
tersambung

Indonesia Timur tumbuh mengejar
keterpisahan
Nelayan kembali menjadi penguasa
samudra

Petani mensyukuri berkah bumi yang
memberi panen raya
Kesejahteraan tidak dirampok inflasi
Pariwisata, rupiah, neraca kompak
menjadi perkasa

Kuakan lanjut bekerja sehingga
Sabang sama rasa dengan Merauke;
Muslim, Nasrani, Hindu, Budha,
Konghucu, penghayat tenang berdoa
untuk menyudahi sulutan kebencian
atas persatuan dalam keberagaman

Aku mung bisa kerjo

Maka,
tetaplah lantang bicara
Tapi sebaiknya dengan mata terbuka
Sehingga katamu bersambung fakta

Buka pula telinga
Sehingga katamu
Bersambung suara gebrakan
perubahan
bukan suara fatamorgana yang kau
ciptakan

Bukan pula dari keinginan atas
kegagalan yang kau bunyikan

Monggo makaryo..

Jakarta, 20 Oktober 2016
Eva Sundari

Read more

Update Status

0 comments
Benarlah adanya bila ada pendapat yang mengatakan bahwa pembaca adalah raja. Tanpa pembaca apalah artinya sebuah tulisan yang bagus dan bermutu.

Pembaca haruslah selalu dilayani semua kemauannya, pembaca harus dibuat bahagia, pembaca harus dibuat senang. Jadi apapun yang kita tulis haruslah selalu menyenangkan pembaca, apapun yang yang kita tulis harus selalu “diharap” dan “ditunggu” oleh pembaca. Sebisa mungkin tulisan kita adalah sebagai candu bagi pembaca.

Tetapi pernahkah Anda menemui seorang pembaca yang  bego?. Bila  pernah, tentu Anda akan merasa dibuat kesal olehnya.

Pernah suatu ketika cak Nono posting sebuah artikel. Posting dari Cak Nono ditautkan pada media sosial yang dimilikinya, dengan harapan blog yang dia miliki akan lebih dikenal khalayak, paling tidak dikenal oleh sahabat sahabat di link-nya.

Ternyata apa yang dilakukan cak Nono adalah cara yang manjur untuk memperenalkan blog yang dimilikinya.

Tentunya respon dari pembacanya juga bermacam-macam, bahkan pengetahuan dari pembaca pun bermacam -macam pula.

Ada sebuah cerita lucu bagaimana interaksi antara pembaca dan cak Nono. Kisah ini sempat  membuat cak Nono sedikit jengkel dengan  pembacanya.

“Apa itu?”, sebuah komentar yang muncul menanggapi update status cak Nono di media sosial yang dimiliki Cak Nono.

“Tak tahulah, Bu”, Cak Nono mencoba menjawab dengan santai pertanyaan dan komentar dari pembacaya.

“Tulisan kok gak jelas”, dibalasnya  jawaban cak Nono sang  pembaca., cak Nono sepertinya mulai kesal pada pembacanya , karena sudah merasa diremehkan oleh pembacanya.

“Tentu saja tidak jelas, karena Anda belum membacanya belum tuntas”, cak Nono mencoba bersabar meladeni komentar si pembaca.

“Apa yang harus dibaca? tulisan kamu cuma secuil kalimat saja”, balas si pembaca.

“Secuil kalimat? maksud Anda apa?” tanya cak Nono pada pembacanya.

Kemudian si pembaca mengutip kalimat pertama yang belum  selesai pada paragrap pertama posting cak Nono. “Tulisan seperti itukah yang Anda suruh kami untuk membacanya?”, si pembaca menyampaikan ketidak sukaannya.

“Loh  itukan baru kalimat pertama pada paragraf pertama artkel”, jawab cak Nono, atas komplain pembacanya.

“Bukankah cuma itu ‘update status’ Anda?” kata si pembaca.

“Hahh....???.”, cak Nono terperangah

“Maksud Anda, Anda hanya membaca secuil penggalan kalimat yang ada di update status saya?” cak Nono bertanya untuk meyakinkan apa yang telah dibaca oleh sang pembaca.

“Betul, memangnya kenapa?”, tanya si pembaca upde status facebook cak Nono.

“Maaf, apakah anda baru memiliki account facebook?”, tanya cak Nono.

“Betul, kenapa?, jawab si pembaca.

“Anda seharusnya ‘klik’, tautan yang sampean baca itu, baru sampean bisa membaca seluruh  posting yang ada di blog saya”, cak Nono menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh pembaca, agar memperoleh informasi tentang tautan, yang ada pada update status pada media sosial.

Dalam hati cak Nono ketawa ngakak, ketika mengetahui duduk permasalahannya, ternyata orang yang berkomentar di facebooknya adalah seorang pemula, yang belum tahu apa yang harus dilakukan untuk membaca sebuah tautan di media sosial.
Read more

Bahagia

0 comments
“Cak, aku dari kecil sampai sekarang tidak pernah merasakan bahagia”, kata kawan cak Nono, saat duduk beristirahat

“Ah, jangan berata begitu, tidak baik, itu namanya mengingkari pemberian Alloh”, kata cak Nono, seolah menasehati sang kawan.

“Bener Cak, yang kurasakan hanya kesedihan melulu”, kata sang kawan.

“Cak, terkadang kesedihan sesaat itu sering kali menghapus kebahagiaan setahun”, kata cak Nono seolah berfilsafat.

“Maksudnya gimana Cak?”, tanya sang kawan.

“ Contohnya begini, saat sampean terima gaji itu bahagia tidak?”, tanya  cak Nono

“Ya, bahagia Cak, wong terima gaji kok tidak bahagia, tapi kan tidak cukup untuk belanja satu bulan Cak”, kata sang kawan

“Nah itu artnya sampean pernah bahagia kan, walaupun sesaat”, kata cak Nono.

“ Cak, bahagia untuk setiap orang itu relatif, tidak sama setiap orang, walaupun ada yang sama namun tidak  sama persis”, kata cak Nono, seolah memberi kuliah.

“Maksudnya Cak?’, tanya sang kawan

“Maksudnya? maksudnya setiap orang pasti mengalami kesedihan dan kebahagian. Jangan pernah berpikir orang yang banyak hartanya itu pasti bahagia, belum tentu Cak”,  jawab cak Nono.

“Ya gak mungkin loh Cak, kalau orang yang hartanya banyak itu tidak bahagia, karena mau apa saja pasti keturutan?”,kata sang kawan, memberi alasan.

“Tidak semua yang ada didunia ini, bisa ditukar dengan harta Cak”, kata cak Nono pendek.

“Kalau sampean tidak percaya, sampean lihat pasien di rumah sakit yang paling mewah dikota ini, disitu rumah sakit digabung dengan hotel, sehingga keluarga si pasien bisa menginap  sambil menunggu sanak saudara yang sedang sakit”, kata cak Nono memberi contoh.

“Apakah mereka bahagia, tidak, mereka juga bersedih karena ada sanak kerabatnya ada yang sakit, walaupun mereka bisa membayar semua ongkosnya, tetap saja mereka juga tetap mengalami kesedihan, juga rasa tidak bahagia”, jelas cak Nono.

“Atau jangan kira orang yang kaya itu selalu bahagia, mereka juga takut bangkrut, sehingga mungkin waktu istirahat mereka akan lebih sedikit dari kita, yang mereka pikirkan adalah bekerja, dan bekerja, sehingga tida punya waktu untuk bersenang senang, apakah itu bisa disebut bahagia?”, cak Nono menjelaskan lebih panjang, seperti dosen saja.

“Apalagi orang yang kaya dari hasil yang tidak benar , misalnaya hasil korupsi, hasil suap, atau hasil mencuri. Jelas mereka tidak akan merasakan ketenangan dalam hidupnya, mereka takut ditangap oleh aparat penega hukum, dan takut masuk penjara”, Jelas cak Nono lebih lanjut.

“Jadi kita harus selalu berusaha untuk  bisa menerima semua rejeki dari Alloh, karena rejeki itu bentuknya tidak melulu berupa harta, karena kesehatan itu juga salah satu bentuk rejeki dari Alloh. Anak yang taat pada orang tua itu juga termasuk rejeki. Coba sampean pikirkan jika sampean punya harta yang banyak, tapi anak sampean nakal, selalu berurusan dengan pihak berwajib , karena pakai narkoba, atau berbuat kriminal lain, apakah sampean bisa merasa bahagia?, tidak bukan?”, cak Nono memberi penjelasan yang panjang lebar seperti ustad saja.

“Benar Cak, kebahagian itu tidak bisa diukur, karena setiap orang berbeda cara merasakannya, dan cara mencarinya?” kata sang kawan.

“Intinya, kalau kta pingin bahagia, kita hurus selalu berbuat jujur dan bersyukur atas semua pemberian dari Alloh, Kalaupun kita diberi sakit, pasti ada hikmahnya buat kita”, lanjut cak Nono.

“Mungkin kita bukanlah seorang pejabat, atau seorang manager sebuah perusahaan, setidaknya kita mempunyai pekerjaan, dengan hasil pekerjaan yang kita kerjakan, kita dapat memberi nafkah yang halal  untuk anak istri kita”, cak Nono menjelaskan lebih lanjut.

“Dan mudah - mudahan, rejeki yang kita peroleh menjadi rejeki yang barokah”, sambung sang kawan.



Read more

Secangkir Kopi Hitam

0 comments
Cak Nono, terlihat  seperti mencari sesuatu di pantry. Itu bisa dimaklumi karena Cak Nono memang jarang masuk pantry di tempat kerjanya. Setiap harinya office boy yang selalu menyiapkan minum di meja cak Nono. Segelas air putih itulah yang selalu siap di meja.

Dibukanya setiap laci lemari pantry, diperiksanya satu persatu isinya.
“Nah ini dia yang aku cari”, guman cak Nono dalam hati. Diambilnya sebuah cangkir, kemudian sebuah  tatakan cangkir. Bergeser ke kanan , kemudian dibuka laci lemari, kemudian dimbilnya kopi hitam dan gula. Diambilnya satu sendok takaran kopi dan dimasukkan ke dalam cangkir. kemudian dimasukkan gula putih tiga sendok teh kedalam cangkir.

“Sekarang siap dituangi air panas”, guman Cak Nono dalam hati. Cak nono kemudian menuangkan air panas yang sudah siap. Diaduknya  penuh dengan perasaan , seolah dia sudah ahlinya membuat kopi yang nikmat.

 “Ok, Selesai sudah, sekarang tinggal menikmatinya” , guman cak Nono, sambil meremas remas tangannya, yang kemudian ditiup kedua tanganya, sebagai tanda puas. “ Huaahh”

Dibawanya secangkir kopi buatannya ke dalam kantor, beberapa kawan Cak Nono merasa heran , karena tidak biasanya dia meminum kopi.

“Dengaren ngopi Cak”, sapa kawannya , mengungkan penasarannya.

“ Lagi kepingen  Cak”, jawab Cak Nono ringan

Disruputnya kopi buatannya yang masih agak panas, “Hmmmm....nikmatnya”, kata cak Nono dalam hati.
Setelah beberapa sruputan...minum kopi Cak Nono segera melakukan aktivitas seperti biasanaya, mengerjakan tugas tugasnya.Rupanya kopi yang masih hangat  itu sangat meggoda Cak Nono, disruputnya kopi itu sampai habis.

Ketika hari sudah menjelang sore, waktunya cak Nono mengakhiri tugasnya hari ini, dia bersiap siap pulang. Tiba tiba dia merasakan sesuatu di perutnya. “Aduh perih sekali perutku”, kata cak Nono dalam hati.“Perasaan aku tidak makan yang asam-asam tadi”, guman cak Nono dalam hati.

“Ada apa Cak?”, tanya kawannya, kawannya merasa heran dengan tingkah cak Nono yang memegangi perutnya, dan wajahnya agak meringis menahan sakit.

“Perutku perih melilit Cak”, jawab Cak Nono.

“Sampean habis makan yang masam-masam kali?”, kata kawannya.

“Ya enggaklah, aku kan punya sakit  magh, jadi gak berani makan yang begituan.
“Atu sampean minum sesuatu ?” tanya kawannya lagi.

“Apa gara gara minum kopi ya?”, kata Cak Nono setengah bertanya.
“Nahhh... itu dia Cak, kadang kadang ada orang yang tidak dapat minum kopi, karena membuat perutnya kembung dan perih, apalagi sampean kan punya riwayat sakit magh”, kawannya menjelaskan.

Kemudian cak Nono menepuk tepuk perutnya, dan dirasakan memang kembung.

“Benar cak perutku juga kembung”, kata cak Nono.

“Pulang kerja langsung mampir ke toko obat saja Cak, beli obat kembung atau obat magh.

“Iya, Cak”, kata Cak Nono.

Sepulang kerja Cak Nono langsung mampir ke apotik yang dekat rumagnya untuk beli obat magh.

Read more

Berjumpa Kawan Lama

0 comments
“Permisi pak, Saya mau menemui seoarng kawan di Coffeshop”, Kata cak Nono pada seorang security yang sedang berjaga di pintu masu sebuah hotel.

“ Monggo monggo pak, silahkan masuk”, kata si security dengan ramah.

Cak Nono masih tampak ragu untuk masuk, dia menoleh seperti mencari sesuatu. Pandangannya mengarah lurus kearah depan, yang tampak hanya mobil terparkir disana.

“Kenapa pak?”, sang security bertanya padanya.

“Maaf pak, parkir motor sebelah mana ya?” tanya cak Nono, rupanya dia sedang mencari tempat parkir untuk motor.

“ Bapak lurus saja, mentok, lalu belok kiri”,  sang security menunjukan arah lokasi parkir pada cak Nono.

Cak Nono lalu mengikuti arah yang di tunjukkan , dia seperti kagum dengan apa yang dilihatnya.
“ Hmm, tamu hotel ini, semua bawa mobil” Cak Nono berkata hati.
Sampailah di ujung jalan yang ditunjukkan oleh security ,  cak Nono lalu belok kiri. Dia nampak terdiam, sejenak dia mengamati apa yang dilihat didepannya.

Yang tampak dimata cak Nono hanyalah sebuah lorong atau jalan kecil,  yang panjangnya kira kira dua puluh meter dan lebarnya kira kira  dua meter,  hanya cukup untuk beberapa motor. Dan yang terparkir disana hanya  tiga motor, mungkin itu juga motor punya pegawai hotel.
Di ujung jalan tadi ada mushola kecil, jelas itu sebuah bangunan mushola karena disana ada terpampang tulisan “Mushola”, tidak seberapa besar memang .

Kebetulan, waktu sudah menunjukkan saat sholat Isya’, sudah terdengar suara adzan dari masjid disekitaran hotel , disempatkan oleh cak Nono sholat dulu sebelum menemui kawan lamanya.
Selesai sholat , cak Nono berjalan menuju keluar dari  lorong parkir motor. Dia mengamati sekitarnya, terlihat lahan parir yang luas. Dicarinya dimana kira kira lokasi coffeshopnya.
Dia melangkah berjalan menuju seseorang, sepertinya dia adalah petugas hotel

“Maaf pak, dimana coffeshonya ya?”, tanya Cak Nono.
“Bapak lurus saja, melintasi tempat parkir ini, disana  caffeeshopnya” jelas petugas itu.
Cak Nono kemudian melintas tempar parkir dan berjalan lurus, Sampailah ditempat yang dituju. Disana terpampang tulisan Coffeeshop. Rupanya coffeshopnya ada dua zona, yaitu ruangan dan di luar ruangan. Zona diluar ruangan digunakan untuk area smoking, sedang yang didalam untuk area nosmoking.

Cak Nono berdiri diluar, dia mengamati orang yang ada di sana, tapi tidak ada yang mirip dengan yang ada di benaknya. Agak lama dia berdiri disana untuk memastikan kawannya berada disana atau tidak. Tetap saja tidak ada yang dia kenal.
Yang ingin ditemuai oleh Cak Nono adalah kawan lama semasa sekolah, dan mereka sudah tidak pernah bertemu sekitar tiga puluh tahun. Ada kemungkina ada perubahan bentuk badan ada wajah, sehingga sulit dikenali.

Dicoba oleh cak Nono dengan call,  tapi sang kawan lama tidak menjawab. Sampai beberapa kali pun tetap tida ada jawaban. “Jangan jangan dia lupa atu handphone nya ketinggalan" , kata hati cak Nono.

Cak Nono mencoba menghubungi sang kawan dengan whatsapp.
“Aku sudah berdiri didepan pintu coffeeshop Cak” tulis Cak Nono pada whatsapp.

“Pintu sebelah mana?”,  dibalas oleh sang kawan.

“Dekat coffee Cak”, balas  Cak Nono.

“Sampean tetap disana saja, biar aku yang samperin sampean Cak” balas sang kawan

Tak seberapa lama kumudian munculah seorang laki laki yang agak gemuk menghapiri cak Nono. Dia berjalan dari arah belakang, tampaknya leleki itu sedang sakit atau mengalami sesuatu. Dia berjalan agak menyeret kainya.

Cak Nono, segera menoleh belakang, begitu merasa ada orang yang berjalan dari arah belakngnya. Orang tersebut tersenyum pada cak Nono. Cak Nono juga tersenyum padanya. Dia menduga pasti orang ini kawannya.

Cak Nono memang tidak begitu mengenali wajahnya, dipandangnya wajah orang yang berdiri didepannya, sepintas dia memang melihat wajahnya waktu masih muda dulu. Cak Nono yakin, bila orang yang berdiri didepannya adalah sang kawan lama tersebut.

Segeralah di menjabat tangannya. “Kenapa kakinya?”, cak Nono berbasa basi, umtuk menutupi kikuknya.

“Biasalah Cak, wis tuwo, dadi serangan penyakit iku onok wae” jawab sang kawan dengan agak tertawa.

“Sampean merokok?” tiba tiba sang kawan bertanya.

“Ah Enggak, aku gak merokok”, timpal cak Nono.

“Kalo gitu kita didalam saja, karena aku juga tidak merokok”, kata sang kawan sambil mengajak masuk. dan menuju ke sebuah meja yang masih kosong.

Seorang pramusaji datang , mendekat, menanyakan menu yang dipesan.

“Makan apa Cak” tanya sang kawan.

“Aku gak makan, karena sebelum ke sini aku sudah makan” , jawan cak Nono.
“Kalo gitu minum saja, pesan jus apa sampean?”

“Jus yang ada mbak?” tanya sang kawan pada pramusaji.

“Sirsat, semangka,terong belanda .........” jawab sang pramusaji

“Aku jus sirsat saja” kata cak Nono

“Aku jus semangka “, kata sang kawan

Suasana pertemuan antara Cak Nono dan sang kawan sudah mulai mencair, mereka ngobrol dengan gayeng, menceritakan perjalanan hidupnya masing -masing, kadang diiringi gelak tawa bila ada yang dirasa lucu, tapi juga kadang tampak serius.

Read more

Salah Alamat

0 comments
“Bu, aku berangkat”, pamit Cak Nono pada istrinya.

“Ya, ayah, hati hati ya”. jawab sang istri.

“Kemana Yah?’, tiba tiba terdengar suara seoarang anak berusia belasan tahun bertanya.

Rupanya putra Cak Nono, sedang menuruni tangga , dia rupanya tidak tahu kemana ayahnya akan pergi.

“Ayahmu mau menemui kawan lamanya”,  Ibunya memmberi tahu.

“Ketemuan dimana Yah?”, tanya putranya lagi.

“Di coffee shop nak, kamu mau ikut kah?, jawab pakde Cak Nono, juga menawarkan putranya umtuk ikut serta.

“ Ah, enggak Yah, aku juga lagi ada PR, hati hati ya Yah” timpal putranya.

Jam dinding menunjukkan waktu sudah pukul 6 malam, segera Cak Nono memacu motornya. Cuaca sedang bersahabat, hari ini cuaca cerah, Cak Nono tidak perlu takut kehujanan. Tidak sampai setengah jam perjalanan sampailah pada tempat yang dituju.

Tiba tiba Cak Nono merasa bimbang sewaktu akan melewati pos penjagaan hotel, dibacanya tulisan didepannya “Hotel Mercure”. Semakin bimbang hati Cak Nono,” Loh hotel ini apa sudah berganti nama?, dalam hati nya bertanya-tanya. “Perasaan tempat ketemuannyadihotel.

Turunlah Cak Nono dari motornya, kemudian dia mendekati seorang security di dekatnya.

“Maaf pak, apakah hotel ini namanya Hotel Elmi? Cak Nono bertanya.

“Bukan pak, hatel ini namaya Mercure” jawab security, memandang dengan heran.

“Kalo Hotel Elmi dimana? pakde Gendut berusaha bertanya.

“ Maaf pak, saya tidak tahu, karena saya orang baru disini”. jawab security itu. Cak Nono tidak berusaha bertanya lagi, percuma saja, karena dia juga tidak akan tahu.

“Maaf pak, saya telah salah alamat” Cak Nono undur diri, tetapi dalam hatinya memang hotel ini yang dikasud kawannya, karena security tadi orang baru, dia tidak tahu kalau hotel ini dulunya bernama hotel Elmi.

Tak jauh dari security, tampaklah seorang bapak bapak yang sedang duduk diatas motornya diluar pagar hotel, kelihatannya sedang menunggu seseorang di hotel itu juga.
Cak Nono mendekat ke orang tersebut, “ Maaf Pak, boleh saya bertanya?”

“Monggo Pak, bertanya apa?”, orang tersebut mempersilahkan , sambil tersenyum ramah.

“Apakah hotel ini namanya Hotel Elmi?” Tanya Ca Nono padanya.

“Bukan pak, ini bukan hotel Elmi”. terangnya, orang tersebut seperti mengingat ingat sesuatu.

“Kalau Hotel Elmi, dimana ya ?”  Cak Nono lanjut bertanya.

“Kalau tidak salah dekat Tunjungan Plaza belok kanan Pak”. orang tersebut menjelaskan , tapi sepertinya tidak begitu yakin.

“ Matur suwun Pak, ngapunten ngrepotaken” kata Cak Nono pada orang tersebut.

“Mboten nopo-nopo Pak” jawab orang tersebut, masih dengan tersenyum ramah.

Cak Nono merasa seperti orang paling bodoh, masa di kota sendiri tidak tahu dimana lokasi hotel yang sudah demikian ternama.

“Waalahhh bodohnya aku, kenapa aku tidak nelpon  dia saja, dimana lokasinya”, Cak Nono seperti merasa tersadar dari kebodohannya.

“Hallo Cak, kita ketemuan dimana? Tanya Cak Nono pada kawan yang akan ditemuinya, seolah olah lupa tempat pertemuannya.

“Kita ketemu di coffeeshop Hotel Elmi saja Cak , jalan pangsud , lokasinya dekat bambu runcing” jawab kawan Ca Nono diseberang telpon.

“Nahhh ini info yang kutunggu tunggu” kata hati Cak Nono, sambil senyum.
“Siapppp aku meluncur kesana”. Kata Cak Nono dengan senyum mengembang, karena dia sudah tahu ancar ancar tempatnya, seperi yang disebutkan oleh kawannya.

“Untung lokasinya tidak jauh dari sini” berkata Cak Nono dalam hati, dan memang hanya sekitar sepuluh menit Cak Nono sudah sampai disana.

Read more

Mit Nite Tausiah

2 comments

Pernahkah kita berpikir, kapankah waktu yang tepat untuk “memberikan” pengetahuan tentang agama, ibadah atau tentang apa saja kepada putra-putri kita. Pengetahuan tentang agama, perilaku, amal ibadah adalah hal sangat penting untuk diketahui, agar putra – putri kita tidak “tersesat”. Tiap orang tentu mempunyai jawaban sendiri tentang kapan  waktu yang tepat  tersebut. Aku juga demikian. Aku biasanya memberikan tausiah pada putraku pada waktu malam hari.

Aku terkadang masih menemani tidur putraku di kamarnya. Sejatinya, aku memang masih belum tega untuk membiarkan putraku tidur sendirian, karena putraku masih kelas enam sekolah dasar.

Tentunya aku tidak langsung berbisara “cas,cis,cus” tentang berbagai hal. Biasanya kami berbincang tentang berbagai hal dahulu, yang kemudian “diselipi” dengan “hukum agama” tentang suatu  hal yang sedang dibicarakan.

Banyak “ilmu” yang bisa kita berikan pada putra putri kita, misal: wudlu, di sini banyak hal yang bisa kita ajarkan, contohnya, hal yang wajib dalam wudlu, yang sunah dalam berwudlu, yang membatalkan wudlu. Atau tentang sholat, disini juga banyak yang bisa kita ajarkan, misal: hal yang wajib dalam sholat, hal yang sunah dalam sholat. Dan masih banyak lagi “hal” yang dapat kita berikan kepada putra putri kita dengan suasana yang “santai” tapi mengena.

Janganlah kita berbicara seperti “berceramah”, karena berceramah  biasanya sangat tidak di sukai anak. Anak lebih suka bila dipancing dengan suatu “masalah”, baik yang dihadapi sendiri maupun orang lain. dan dia ingin mendapat jawaban atas masalah yang tidak di ketahuinya atau yang masih meragukannya.

Aku biasanya masih memberikan kesempatan pada putraku untuk menanyakan tentang hal yang aku bicarakan itu pada orang yang dianggap mengerti masalah itu pada orang lain, misalnya pada guru, ustad atau pada siapapun yang dianggap mengerti masalah itu.

Intinya kita harus memberikan “ilmu” yang bermanfaat kepada putra-putri ita agar mereka tidak “tersesat”.

Yang juga lebih penting adalah kita harus memberi contoh pada putra putri kita dengan perbuatan yang nyata. Kita juga harus mengamalkan  apa yang telah kita ajarkan kepada putra – putri kita. Bukan hanya ngomong doang

Read more

Iming – iming

1 comments

Siapa yang tidak tahu makna dari judul diatas? aku yakin semua pasti tahu. Iming-iming artinya adalah suatu pemberian yang akan diberikan bila si “obyek” mau melakukan “sesuatu” atas permintaan si “subyek”. Ha ha ha sok mengajari pelajaran bahasa indonesia, emang nialai raport aku berapa?

Hari –hari belakangan ini kita di bombardir berita tentang “eksekusi mati” para gembong narkoba. Yang sangat menyita perhatian adalah “si cantik”: Mary Jane. narapidana wanita yang berasal dari Philipina.

Yang kita tahu, sekarang di negaranya sana sedang ada usaha untuk menyelamatkan dia dari eksekusi mati. Dan Khabarnya sedang dibuat drama bila Mary Jane hanyalah “korban” trafficking, alias korban perdagangan manusia. Sangatlah mengherankan adalah apabila “satu hari” sebelum pelaksanaan eksekusi, dikhabarkan bila sang perekrut Mary Jane menyerahkan diri. Apa masuk akal, bila seorang gembong, tiba tiba berbaik hati menyerahkan diri?

Iming-iming yang sangat besar, tentulah sangat menarik hati, apalagi bila iming-iming itu nilainya  sangat fantastis, tentu sangat mendorong manusia untuk “tamak” mendapatkannya.

Tapi harus juga diingat, bila seseorang memberi iming-iming yang besar apalagi bila nilainya sangat tidak logis, pasti si “pemberi” mempunyai tujuan yang tidak logis pula. Dan bila seseorang bersedia  melakukan permintaan si pemberi iming-iming pastilah dia sudah tahu resiko yang akan dihadapinya.

Salah satu orang yang ingin memperoleh iming-iming itu adalah Mary Jane, pasti dia tahu “resiko” apa yang akan dihadapi. Karena “ketamakannya” untuk mendapatkan iming-iming yang fantastis, dia bersedia melakukan permintaan si pemberi iming - iming tadi.

Bila sekarang  PBB, dan Amnesti Internasional pada ribut mengecam Indonesa, dan menyebut bangsa Indonesia adalah bangsa barbar, apakah mereka tidak keblinger?

Iming iming apakah yang akan didapatkan oleh PBB dan Amesti Internasional bila berhasil menyelamatkan Mary Jane dari Ekseusi hukuman mati?

Read more

Pak Presiden, Lanjutkan

0 comments

Pagi ini begitu ceriah, sehingga burung-burungpun tiada segan menyanyikan lagu yang merdu. Tapi tidak dengan dengan raut beberapa orang di seberang sana, mereka tampak bersungut-sungut seakan mau keluar tanduknya untuk menyerang seseorang atau bahkan ada yang kebakaran jenggot padahal mereka tidak berjenggot. Pusing bukan, mau ngomongin apaan sih penulis ini, tenang….semua pasti juga akan tahu.

Hari ini aku sangat bangga dengan apa yang telah di”lakukan” oleh pemimpin  negara ini, dengan “gagah berani” memerintahkan untuk EKSEKUSI terpidana mati karena kasus narkoba, tidak seperti pemimpin sebelumnya yang tidak pernah berani melakukan hal yang sama.

Kita pasti juga tahu , resiko apa yang akan kita terima sebagai konsekuensi. Tapi apa mungkin kita akan mengorbanku ratusan ribu per hari nyawa anak bangsa ini hanya untuk menyelamatkan segelintir nyawa.

Mereka boleh memanggil pulang para duta besarnya, atau mengancam untuk memutuskan hubungan diplomatiknya. Tapi kita harus menegakkan harga diri kita sebagai bangsa dan negara. Mereka melakukan “protes” juga karena ada kepentingan politik dalam negerinya. Tidaklah murni untuk menyelamatkan “para gembong” demi kemanusiaan.

Bolehlah mereka berdalih “demi kemanusian” untuk menyelamatkan para gembong narkoba. Bagaimana mereka berusaha untuk menyelamatkan para gembong narkoba dengan berdalih demi rasa kemanusian sedang para gembong narkoba sendiri tidak pernah menganggap  anak bangsa ini sebagai manusia.

Bapak Presiden yang pemberani, LANJUTKAN EKSEKUSI PARA GEMBONG NARKOBA, KAMI SELALU MENDUKUNGMU,AYO!!! KITA TUMPAS MEREKA. BILA MEMUNGKIN EKSEKUSI PULA KORUPTOR DI NEGERI INI. KARENA MEREKA TAK LEBIH HANYA BINATANG MELATA

Read more

Ihlas

4 comments

“Ayah,ihlas itu apa?”, tiba-tiba anakku bertanya.

“Ihlas adalah amal dan perbuatan yang tidak mengharapkan sesuatu balasan, dan hanya mengharapkan ridha dari Alloh semata”, jawabku.

“Ayah, apabila kita mengerjakan sholat, tetapi kita mengharapkan balasan surga dari Alloh, apakah itu namanya ihlas?”, anakku kembali mengajukan pertanyaan.

Aku tercengang dengan pertanyaan anakku, bingung bagaimana cara menjawabnya, bagaimana cara menerangkannya, karena anakku baru kelas enam sekolah dasar.

Aku tidak mungkin menjawab sekenanya, karena jawabanku pasti akan menjadi pijakan anakku dalam melakukan sesuatu ibadah dan amalan apapun.

“Anakku, sholat merupakan sebuah kewajiban hamba  kepada penciptanya, yaitu Alloh, bila kita tidak melaksanakannya  atau meninggalannya maka kita akan mendapat hukuman dari Alloh, dan bila melaksanakan perintahnya  maka kita akan hadiah dari Alloh. Terus apa bentuk hukuman dan hadiah dari Alloh itu? ya, terserah kepada Alloh. Misal yang yang meninggalkan sholat mendapat hukuman masuk neraka, sedang yang yang mendirikan sholat mendapat hadiah surga. Kita tidak bisa hitung-hitungan dalam beribadah kepada Alloh, kita tidak seperti orang jual – beli.  Kita hanya diperintah untuk beribadah, dan imbalannya terserah Alloh” aku mencoba menjelasan kepada anakku

“Jadi , bila kita beribadah dan beramal kebaikan itu kita hanya “karena Alloh” tidak boleh di embel-embeli “biar mendapat surga” ya Yah?” anakku mencoba menegaskan apa yang telah aku terangkan

“Ya, Anakku, karena untuk mendapat surga itu perlu “rahmat Alloh”, tidak ada satupun jaminan bila kita mengerjakan kebaikan itu pasti masuk surga, bila alloh tidak memberikan rahmatnya kepada kita.” jawabku mantab

Kami kemudian berbincang tentang lain hal.

Read more

Akulah kebenaran

17 comments

Wowww….gila banget tuh judul posting kali ini. Maaf kawan jika Anda semua tersinggung dengan judul di atas.

Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa aku adalah yang paling benar, aku cuma ingin mengungkapkan rasa kegemasanku dengan situasi yang berkembang kini.

Lihatlah di sana, gonjang –ganjing DKI, para legislative dan  eksekutive, mereka saling bersilang pendapat, mereka saling klaim bahwa mereka  yang paling benar. mereka saling kritik dan menyalahkan  seolah lawan mereka tidak sedikitpun ada benarnya.

Juga disana, para politikus “A” dan “B”, mereka satu rumah, satu instutusi, mereka saling berebut legimitasi atas kelompaknya, dibawalah ke pengadilan, ehh…. begitu juga mereka masih tidak terima, masih juga mengklaim bahwa dirinya yang paling sah. Akulah yang benar.

Yang ini malah kebangetan, sudah jelas-jelas tertangkap tangan dan bukti juga di depan mata dan dinyatakan sebagai tersangka, masih juga berkelit, mereka mengatakan bahwa yang menetapkan tersangka adalah pihak yang salah, bahkan mereka bersama-sama menggugat. Unik bukan. Mereka merasa tidak bersalah dengan mengajukan berbagai alibi.

Gonjang ganjing di negeri ini seolah tiada hentinya. Antara kementerian dan organisasi massa dan kemasyarakan saling klaim.Yang lucu, organisasi tersebut masih menyusu ataupun mengharapkan dana dari pemerintah untuk kelangsungan hudupnya, tapi mereka tidak mau diatur pemerintah dengan alasan tidak mau diintervensi oleh pihak lain, apa kagak kebliger tuh.

Intinya, mereka mengklaim bahwa dirinya adalah yang paling benar, tidak ada kebenaran selain yang datang dari dirinya dan kelompoknya.

Read more

Kecelik

9 comments

Sudah lama sekali aku tidak blogging ataupun blogwalking. Blogku juga kurus tidak terurus karena tidak pernah mendapat asupan yang memadai, semua masih serba berantakan. Anda pasti bertanya-tanya mengapa aku melakukan semua itu?. Baiklah aku aku akan kasih tahu sebuah rahasia.

Sejujurnya aku juga ingin menjadi blogger profesional yang bisa mendapat “duit” dari blogku, tapi rasanya itu tidak akan pernah tercapai. Kenapa? karena aku tidak mempunyai keahlian khusus yang bisa aku “jual” kepada pengunjung blogku.

Menulis adalah sarana untuk menumpahkan unek-unek yang ada di otakku,  menulis merupakan obat stress dari kepadatan pekerjaan sehari-hari sehingga  aku tidak mau stress karena dikejar - kejar harus menulis sebuah artikel.

Beberapa hari yang lalu aku mulai  beraktivitas blogging lagi, aku mencoba untuk blogwalking ke tempat teman-teman lama yang biasa aku kunjungi.

Ohh… ternyata aku tidak dapat menemukan mereka, sudah aku coba mengetuk-ketuk pintu tapi tidak juga ada yang muncul.

Aku sadar, beberapa waktu telah berlalu, entah beberapa hari, beberapa bulan atau beberapa tahun berganti, semua telah mengubah keadaan.

Mungkin teman-teman lama juga mengalami seperti aku, butuh rehat beberapa waktu untuk pemulihan, atau juga mereka sudah meninggalkan aktivitas blogging selamanya. Tentu banyak alasan untuk itu, tapi semua adalah hak kami, hak mereka dan hak kita semua untuk terus berkarya atau berhenti.

Walaupun begitu aku tetap bangga dan bahagia, karena telah mengenal mereka, sahabat-sahabatku blogger.

Read more

Gandeng renteng

4 comments

Tiba-tiba hapeku berbunyi, segera angkat, ternyata yang menelpon adalah istriku.

“Assalamu’alaikum… ada apa Bu?’’ tanyaku, aku penasaran.

“Yah…sampean itu gimana sih jaga warung?” suara istriku, sepertinya mempertanyakan kinerjaku.

“Kenapa Bu, sampean kok ngomong begitu, ada yang salah?” tanyaku meminta penjelasan .

“Iya, hilang tuh permen satu toples, masa sampean tidak tahu” jelas istriku.

“Tadi malam aku tidak melayani orang beli permen, aku juga tidak penah meninggalkan warung sedetikpun” aku mencoba untuk menjelaskan.

Semalam memang aku yang berjaga warung, karena istriku sedang mengiuti kegiatan pengajian rutin khusus jama’ah wanita di kampung. Kami memang buka warung kecil-kecilan.

“Ya sudah kalau begitu, mungkin hilangnya pas aku yang jaga. Gak apa-apa Yah, aku ihlaskan saja”, suara istriku merendah.

“Iya Bu, di ikhlaskan saja, anggap saja sodakoh, mungkin yang mengambil sedang butuh” aku mendukung keikhlasn istriku atas hilangnya salah satu dagangannya.

……………………………………………………oooOOOoo……………………………………………………………………

Sore harinya aku pulang kerja seperti biasa. Aku agak merasa aneh, ketika di depan pintu banyak sandal.

“Siapa didalam, siapa pula mereka?” tanyaku dalam hati. Segera aku turun dari motor, karena aku ingin tahu siapa tamunya.

“Assalamu’alaikum”, aku memberi salam pada mereka yang ada didalam rumah, dan segera masuk ke dalam.

“Wa’alaikum salam”, terdengar suara serempak membalas salam. Rupanya ada sekitar enam atau tujuh ibu-ibu didalam rumah.

Entah karena mereka sudah lama bertamu, atau karena kedatangnku, mereka semua pamit pulang. Istriku tidak mengatakan apa-apa kepadaku, akupun juga tidak mempertanyakan kedatangan mereka.

…………………………………………………oooOOOooo……………………………………………………………………….

“Yah, aku mau cerita mengenai kedatangan ibu-ibu tadi”, kata istriku setelah kami selesai sholat isya’

“Ceritakan saja Bu, tidak usah ragu, aku selalu bersedia mendengarkan curhatmu” kataku melucu dan menggoda istriku. Aku berpikir pasti akan ada acara ibu-ibu yang melibatkan istriku, sehingga istriku akan minta izin dariku.

“Ibu-ibu tadi ke sini untuk minta maaf kepada kita”, kata istriku.

“Minta maaf? Memangnya salah apa mereka, sehingga mereka harus minta maaf kepada kita?”,tanyaku tidak mengerti.

“Begini Yah, salah satu anak dari ibu-ibu tadi adalah yang mengambil permen kita yang hilangitu ”, istriku menjelaskan.

“Oh begitu, lantas kenapa meraka datang ke kita secara rombongan begitu?”, tanyaku masih belum mengerti.

“Ceritanya begini Yah, Ada tiga anak yang mengambil permen kita, kemudian mereka sembunyikan, karena takut ketahuan, oleh mereka permen itu di titipkan pada si Anu, rupanya si Anu juga takut, akhirnya si Anu juga menitipkan pada si Fulan. Si Fulan akhirnya juga takut . Lima anak tadi ahirnya berembuk untuk menyimpan permen tadi. Rupanya saat berembuk tadi, pembicaraan mereka terdengar oleh tante salah satu dari mereka. Karena malu, tante itu menceritakan kejadian itu pada orang tua mereka. Ibu-ibu tadi adalah orang tua dari anak-anak itu, mereka datang kemari untuk mengembalikan permen itu dan minta maaf kepada kita” , cerita istriku.

“Mmm Begitu ceritanya, bila begitu kejadiannya, tidak usahlah kita perpanjang urusan ini, kita jangan cerita apapun soal ini pada orang lain, kasihan ibu-ibu itu, mereka sudah menanggung malu atas ulah anak-anak mereka. Selain itu pelakunya masih kecil-kecil, toh mereka juga belum menikmati permennya”,Perasaanku iba, mendengar cerita istriku. Ibu-ibu pasti merasa malu.

“Iya Yah, ibu ibu tadi juga pesan  begitu, mereka minta untuk tidak menceritakan kejadian ini pada orang ”,  kata istriku menambahkan.

Percakapan kami terhenti, karena ada pembeli datang diwarung kami.

Read more

Lupa waktu

3 comments

Aku parkir motorku, tak lupa kemudian aku kunci steer, ini adalah kebiasaanku, untuk jaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, walaupun parkir didepan rumah sendiri. Kenapa? karena rumahku tidak punya halaman, jadi setelah teras yang hanya satu meter di depannya sudah jalan atau gang kampung.

Setelah mengucap salam pada yang ada di dalam rumah, aku taruh helm diatas buffet di ruang tamu. Aku segera menghampiri istriku yang sedang bercengkerama dengan putra semata wayangku. Setelah tanya ini dan itu, aku segera segera keluar rumah untuk memasukkan motorku ke dalam ruang tamu.

Aku kembali ke tempat istri dan putraku bercengkerama. Oh rupanya mereka sedang menyaksian tayangan sinetron india, aku ikut bergabung dengan mereka.

“Yah, cepat mandi, baunya tuh”, kata putraku, tertawa sambil menutup hidung.

“Iya, Yah, sudah sore nih”, sambung istriku.

“Sebentar, sedikit lagi, filmnya kan segera selesai”, jawabku, mataku terus menatap tv

Waktu tak terasa terus berlalu, hampir  mendekati waktu Magrib tiba. Aku merasa ada sesuatu yang kurang pada diriku, atau ada sesuatu yang terlupakan, tapi entah apa. Aku berusaha mengingat-ingat.

“Masya’Alloh!”, Aku tiba-tiba berseru, karena teringat apa yang telah aku lupakan.

“Ada apa Yah?” istriku bertanya dengan tergopoh-gopoh karena kaget.

“Aku baru ingat, belum sholat Ashar” Jawabku, dengan berjalan menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa.

Aku segera mengambil wudlu, setelah menuju kamar untuk sholat.

“Ayah nggak mandi?” tanya istriku.

“Nggak, nanti dulu, sudah mau masuk Maghrib”, jawabku singkat.

Setelah sholat aku kembali menjuju kamar mandi, untuk mandi.

“Kenapa Ayah bisa lupa sholat Ashar tadi”, tanya istriku.

“Tadi banyak pekerjaan di kantor, begitu selesai ayah langsung pulang, lupa tidak sholat ashar dulu”, terangku.

“Lain kali bila pulang jangan terburu-buru, sholat dulu” kata istriku.

“Biasanya sih juga begitu, sebelum pulang, ayah sholat ashar dulu, tadi aku benar-benar lupa”, terangku.

Aku segera mandi, karena adzan Maghrib sudah terdengar.

Read more

Modus petugas pengisi bbm

2 comments
Woww…antreannya panjang sekali. karena aku sangat butuh, ya terpaksa aku harus rela berantre-antre ria he he he. Aku sedang dalam pejalanan pulang ke rumah setelah seharian jalan – jalan dengan istri dan anakku, ini bener –bener jalan-jalan bukan jajan-jajan ataupun beli-beli he he he….

Akhirnya tiba juga giliranku. “Dua liter mas” kataku pada petugas pengisi bbm, kemudian aku berikan uang limapuluhan ribu. Setelah selesai mengisi bbm motorku agak kumajukan, untuk memberi tempat pada motor yang ada dibelakang untuk mengisi bbm.

Setelah menutup tutup tanki, segera istri dan anakku naik motor dan… brrrrrrr…aku segera ngacir dari stasiun pengisian bbm.

Malam harinya saat nonton tv, tiba –tiba aku ingat bila saat membeli bbm tadi belum diberi uang kembaliannya. Aku jadi cengar – cengir sendiri seperti orang yang lagi salting.

“Kenapa Yah,kok senyum-senyum sendiri”, tiba-tiba anakku mengagetkanku.

“Ah, enggak , ituloh  lucu sekali” jawabku sambil mendongakkan wajahku mengarah ke arah tv. Aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada anakku

“Iya Yah, memang lucu sekali dia itu” anakku mengiyakan.

Sebenarnya yang membuat aku cengar –cengir itu bukan acara tv, tetapi karena teringat perilaku petugas stasiun bbm tadi. Seharusnya saat aku akan meninggalkannya tadi dia mengingatkan aku bila uang kembaliannya belum diberikan, atau memanggil aku jika aku sudah terlanjur menstater motorku.

Tapi dia tidak melakukannya, sepertinya dia sengaja membiarkanan orang lupa dan tidak meminta uang kembaliannya

Mungkin ini sebuah modus untuk mendapatkan keuntungan pribadi, dengan mengharapkan orang lupa atas uang kembaliannya.

Boleh juga tuh aksinya.
Read more

Kecewa

2 comments

Aku duduk di sebelah anakku yang sedang sakit, aku letakkan tanganku di dahinya, kurasakan suhu tubuhnya sangat tingi. segera aku berikan sirup penurun panas dan aku  mengambil washlap yang telah aku celupkan air hangat untuk mengompres nya.

Tiba tiba ia menangis dan menumpahkan rasa kecewanya. “ Ayah, mengapa Alloh tidak mengabulkan doaku?”. Aku terkejut dengan pertanyaanya.

“Memangnya kamu berdoa apa nak?” ganti aku yang balik tanya.

“Aku berdoa pada Alloh agar aku diberi sembuh, tapi mengapa aku masih sakit?kata anakku, berkata sambil sesunggukan.

“Anaku, segala sesuatu itu ada prosesnya, tidak bisa langsung terjadi, berdoa juga begitu , pasti ada waktu untuk menunggu, entah lama atau sebentar doamu pasti akan dikabulkan Alloh”,

“Minumlah obat secara teratur sesuai petunjuk dokter InsyaAlloh kamu akan segera sembuh, karena obat juga memerlukan waktu untuk menyembuhkan, tidak bisa sekali minum obat langsung sembuh”.Aku mencoba menenangkan anakku dengan memberi alasan yang bisa diterima.

“Ayah, apakah Ayah pernah merasa kecewa dengan Alloh?”, sebuah pertanyaan yang sangat menohok sekali, aku bingung bagaimana harus menjawabnya, tapi aku harus  menjawabnya.

“Tentu setiap manusia pasti pernah kecewa dalam hidupnya, entah kecewa kepada orang tua, teman, atau bahkan kepada Alloh, Tuhannya. Tapi semua itu kembali kepada kita, tergantung kepada kemampuan kita dalam menyikapinya” aku mencoba untuk menjawab pertanyaan anakku.

“Kapan ayah pernah kecewa kepada Alloh?” anakku kembali mengajukan pertanyaan yang menohok lagi.

“Saat ayah gagal mendapatkan pekerjaan, ayah kecewa berat, semua usaha telah ayah usahakan , tetapi ayah tidak juga mendapatkan pekerjaan yang ayah inginkan , ayah putus asa, ayah pernah berpikir bila Alloh telah tidak adil terhadap ayah” aku mencoba untuk menjelaskan kepada anakku.

“Bagaimana ayah mengatasi perasaanitu?” anakku mencoba untuk tahu cara mendapatkan solusinya.

“Ayah mencoba sharing dengan orang lainyang lebih berpengalaman, dan pada orang yang arif, misalnya dengan orang berpengetahuan agamanya lebih luas, sehingga hati ayah lebih tenang menghadapi kegagalan”. aku menjelaskan

“Apakah ayahtidak malu” pertanyaan anakku masih berlanjut.

“Kenapa harus malu? untuk meraih sukses kita tidak boleh malu, kita harus berani sharing dengan orang lain, sehingga kita mendapatkan keputusan yang terbaik.

“Ya Ayah, aku mengerti”, rupanya anakku sudah mengerti apa yng telah aku jelaskan tadi.

“Sekarang kamu harus banyak istirahat agar segera sembuh ya”, kataku pelan sambil tersenyum.

Au kemudian rebahan disebelah anakku

Read more

Selamat Bekerja Kang

1 comments
jokowi
Sebenarnya  Kakang yang satu ini bukanlah siapa –siapaku, tetapi sepak terjangnya selama ini telah memberikan tempat tersendiri di sudut hatiku. Kenal secara pribadi-pun aku tidak. Aku tahu dirinya juga dari berita-berita di media cetak maupun di media elektronik. Semoga apa yang di beritakan oleh media itu mendekati kebenaran. Aku bangga dengan  kesederhanaanya, baik itu gaya bahasa, penampilan, gaya hidup, maupun apa yang diungkapkannya sangat mudah dimengerti oleh semua orang.

Aku yakin Kakang  memang orang yang sangat ingin mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negaranya, dan kakang  juga menomer sekiankan “yang diperoleh dari jabatannya”
Aku selalu berharap “kesederhaannya” adalah memang sederhana yang sebenarnya, dan aku pun berdoa agar Kakang tidak tergoda dengan segala “jatah dan upeti” yang mematikan sanubari.

Ingat Kakang jabatan adalah amanah dari Tuhan,dan jabatan itu dapat sewaktu-waktu dapat diambil lagi oleh Tuhan.
Dan ingat kakang JABATAN adalah FITNAH, karena itu jangan menyalah gunakan WEWENANG.

Kakang , aku hanya bisa mengucap  SELAMAT BEKERJA DAN SEMOGA SELALU MENDAPATKAN RAHMAT DAN HIDAYAH DARI TUHAN
Read more