Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Cak Nono dan Hand Phone Putranya

1 comments
Dilahatnya jam dinding, Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.“Kampung sudah sepi, sudah tidak ada tanda tanda kehidupan, mending lapak aku tutup saja”, kata Cak Nono dalam hati.

Suasa kampung cak Nono, sekarang memang sangat jauh berbeda sembilan puluh derajat dengan suasana beberapa tahun yang lalu. Dahulu kampung cak Nono merupakan daerah lokalisasi yang cukup ternama, yang selalu ramai baik siang atau malam, bahkan tidak ada bedanya kehidupan disiang atau malam hari.  Karena kegigihan sang Walikota, tempat itu sekarang telah ditutup. Kampung itu sekarang sepi dan damai, sudah tidak ada lagi orang mabuk-mabukan dijalanan atau sekelompok orang tawuran.

“ Nak sudah sholat?’ tanya cak Nono pada putranya yang sedang asyik nonton tv. Putra cak Nono masih duduk di kelas delapan.

“Sudah Yah”, jawan sang putra.

“Ayo Nak, tidur, sudah malam, besok sekolah”, kata cak Nono pada putranya.

“Ya, Ayah”, Kemudian putra cak Nono berjalan menuju kamar mandi, untuk sikat gigi dan cuci kaki.

“Ayo, Ayah antar ke kamarmu”, kata cak Nono lemah lembut pada putra. Kemudian mereka berdua menaiki tangga ke lantai atas.

“Persiapkan buku-buku , dan perlengkapan alat tulisnya Ya, Nak”, Kata Cak Nono pada putranya.

“Ya, Ayah”, kata putra cak Nono, kemudian dengan segera menyiapkan buku buku pelajaran untu hari besok. Sedang Cak Nono setia menunggu putranya mempersiapkan kelengkapan sekolahnya.

“Sudah Ayah”, kata putra cak Nono, yang sudah selesai mempersiapkan untuk hari besok.

“Assalamu’alaikum”, cak Nono memberikan salam pada putranya, kemudian bergegas meninggalkan kamar putrana.

Cak Nono tidak langsung tidur, dia masih sibuk mempersiapkan  barang -barang dagangan. Tiba tiba terdengan suara barang jatuh dari lantai atas. Seketika dia menoleh kearah datangnya suara.

“Inalilahi wainailaihi rojiuun.......”, Cak Nono kaget, dan terbelalak matanya, ternyata yang jatuh adalah sebuah hand phone. “Itukan hand phone putraku”, kata hati cak Nono.

Tak seberapa lama kemudian putra cak Nono turun, sambil menangis. “Maaf Ayah, hand phone ku jatuh”, kata putra cak Nono, suaranya agak tidak jelas, karena berkata sambil menangis.

“ Kenapa bisa jatuh Nak?”, tanya cak Nono, dengan suara lembut, tidak menunjukkan kemarahan

“Waktu aku mau tidur , aku lihat bateraynya mau habis, kemusdian hand phonenya aku charge Ayah, tanpa sengaja kabelnya tertarik kakiku , akhirnya jatuh” anak cak Nono menjelaskan kronologis jatuhnya hand phone, masih dengan tangisnya tersedu .

“Coba lihat, handphone rusak apa tidak”, kata cak Nono pada anaknya. Kemudian putranya mengambil hand phone yang telah jatuh itu, dilihatnya dengan seksama.

“Layarnya pecah Yah”, kata cak Nono masih menangis, sepertinya masih takut dimarahi.

“Bawa kemari Nak”, cak Nono meminta hand phone dibawa kepadanya, setelah hand phone diterima, cak Nono kemudian memeriksa dengan seksama.

“Kelihatannya sudah tidak bisa diperbaiki”, kata Cak Nono.

“Terus aku pakai apa Yah”, tanya putra cak Nono.

“Sementara pakai punya ayah dulu, biar ayah pakai hand phone yang lama”, jawab cak Nono.

“Nanti bila ada rejeki,  nanti ayah belikan yang baru, maukan pakai pakai hand phone punya ayah?”, tanya cak Nono.

“Enggak apa apa Ayah“, jawab putranya.

“Ayo, Sekarang kamu tidur”, biar tidak terlambat bangun.

Kemudian putra cak Nono naik ke lantai atas, cak Nono kembali menemani putranya sampai masuk kamar.


Read more

Cak Nono dan Mesin Cuci

0 comments
“Ternyata mencuci dengan mesin cuci gak bisa bersih “, tiba tiba cak Nono memecah keheningan. Saat itu cak Nono dan kawannya sedang  duduk santai, saat waktu beristirahat, di mushola tempat mereka bekerja.

“Sampean  pake mesin cuci tah Cak?”, sang kawan bertanya  pada cak Nono.

“Iya cak, tapi kok hasilnya kok “mblekethek”, cak nono mengeluh

“Cucian yang berwarna, dan dan yang putih sampean pisah tah?”, tanya sang kawan

“Enggak...., ya dicampur Cak”, jawab cak Nono.

“Nahhh..., kalo mencuci itu pakaian yang berwarna dan yang warna putih itu harus dipisah Cak, kalo gak dipisah kotorannya bisa membuat yang putih menjadi kusam”, sang kawan menjelaskan

“Ooo...begitu ya?”, kata cak Nono, tetapi sepertinya belum mengerti.

“Sampean kalau mencuci dengan mesin cuci, pakaian yang kotornya bandel harus disikat dahulu. Misalnya leher, lengan harus disikat dahulu agar kotorannya, baru dicuci dengan mesin cuci”. Sang kawan menjelaskan cara mencuci dengan mesin cuci.

“Kan menjadi percuma membeli mesin cuci”, kata cak Nono berdalih

“Ya tidak percuma Cak, mesin cuci diciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia”, bantah sang kawan.

“Dengan mesin cuci, cucian tinggal dimasukan ke dalam mesin cuci, setelah itu bisa ditinggal untu mengerjakan pekerjaan yang lain kan, misal masak, menyapu dan yang lainnya. Coba  kalau mencuci secara konvensional, ya tidak bisa ditinggal - tinggal, kalu bisa setiap mencuci, semua harus direndam dulu, mesin cuci kan bisa diprogram ’rendam”, sang awan menjelaskan kelebihan menggunakan mesin cuci

“Kalau itu aku sudah mengerti Cak, mangkanya aku beli mesin cuci biar istriku gak capek”, kata cak Nono.

“Aku beli mesin cuci itu karena kasihan melihat istriku, yang capek mengurus anak, dan pekerjaan rumah yang lain”, kata cak Nono menjelaskan alasan dia membeli mesin cuci.

“Yang menjadi masalah itu, setelah lama aku perhatikan, pakaian kami kelihatan agak lebih ‘kumal’ dari sebelumnya”. Jelas cak Nono.

“Hasil gak memuaskan itu kan karena sampean salah dalam menggunakannya”, kata sang Kawan.

“Iya cak, rupanya selama ini kami salah dalam cara mencuci dengan mesin cuci, sekarang aku sudah tahu cara yang benar dalam mencuci”,  aku cak Nono.

“Suwun loh Cak”, kata Cak Nono.

“Alahhh... gitu saja, pake suwun segala”, kata sang kawan sambil tertawa.

Cak Nono cuma tersenyum simpul
Read more

Raisopopo mung Kerjo

0 comments
Raisopopo mung Kerjo


Katamu
Sejuta harapan
mimpi tanpa kenyataan
dendam yang harus terus ditabuhkan

Hanya bisa kujawab dengan Kerja
Aku memilih kerja
daripada bermain kata

Masih 2 tahun, kuhanya bisa
mengajak rakyat bekerja

Sehingga

Papua dalam benderang dan
kemudahan
Sumatra saling terhubung dan
tersambung

Indonesia Timur tumbuh mengejar
keterpisahan
Nelayan kembali menjadi penguasa
samudra

Petani mensyukuri berkah bumi yang
memberi panen raya
Kesejahteraan tidak dirampok inflasi
Pariwisata, rupiah, neraca kompak
menjadi perkasa

Kuakan lanjut bekerja sehingga
Sabang sama rasa dengan Merauke;
Muslim, Nasrani, Hindu, Budha,
Konghucu, penghayat tenang berdoa
untuk menyudahi sulutan kebencian
atas persatuan dalam keberagaman

Aku mung bisa kerjo

Maka,
tetaplah lantang bicara
Tapi sebaiknya dengan mata terbuka
Sehingga katamu bersambung fakta

Buka pula telinga
Sehingga katamu
Bersambung suara gebrakan
perubahan
bukan suara fatamorgana yang kau
ciptakan

Bukan pula dari keinginan atas
kegagalan yang kau bunyikan

Monggo makaryo..

Jakarta, 20 Oktober 2016
Eva Sundari

Read more

Update Status

0 comments
Benarlah adanya bila ada pendapat yang mengatakan bahwa pembaca adalah raja. Tanpa pembaca apalah artinya sebuah tulisan yang bagus dan bermutu.

Pembaca haruslah selalu dilayani semua kemauannya, pembaca harus dibuat bahagia, pembaca harus dibuat senang. Jadi apapun yang kita tulis haruslah selalu menyenangkan pembaca, apapun yang yang kita tulis harus selalu “diharap” dan “ditunggu” oleh pembaca. Sebisa mungkin tulisan kita adalah sebagai candu bagi pembaca.

Tetapi pernahkah Anda menemui seorang pembaca yang  bego?. Bila  pernah, tentu Anda akan merasa dibuat kesal olehnya.

Pernah suatu ketika cak Nono posting sebuah artikel. Posting dari Cak Nono ditautkan pada media sosial yang dimilikinya, dengan harapan blog yang dia miliki akan lebih dikenal khalayak, paling tidak dikenal oleh sahabat sahabat di link-nya.

Ternyata apa yang dilakukan cak Nono adalah cara yang manjur untuk memperenalkan blog yang dimilikinya.

Tentunya respon dari pembacanya juga bermacam-macam, bahkan pengetahuan dari pembaca pun bermacam -macam pula.

Ada sebuah cerita lucu bagaimana interaksi antara pembaca dan cak Nono. Kisah ini sempat  membuat cak Nono sedikit jengkel dengan  pembacanya.

“Apa itu?”, sebuah komentar yang muncul menanggapi update status cak Nono di media sosial yang dimiliki Cak Nono.

“Tak tahulah, Bu”, Cak Nono mencoba menjawab dengan santai pertanyaan dan komentar dari pembacaya.

“Tulisan kok gak jelas”, dibalasnya  jawaban cak Nono sang  pembaca., cak Nono sepertinya mulai kesal pada pembacanya , karena sudah merasa diremehkan oleh pembacanya.

“Tentu saja tidak jelas, karena Anda belum membacanya belum tuntas”, cak Nono mencoba bersabar meladeni komentar si pembaca.

“Apa yang harus dibaca? tulisan kamu cuma secuil kalimat saja”, balas si pembaca.

“Secuil kalimat? maksud Anda apa?” tanya cak Nono pada pembacanya.

Kemudian si pembaca mengutip kalimat pertama yang belum  selesai pada paragrap pertama posting cak Nono. “Tulisan seperti itukah yang Anda suruh kami untuk membacanya?”, si pembaca menyampaikan ketidak sukaannya.

“Loh  itukan baru kalimat pertama pada paragraf pertama artkel”, jawab cak Nono, atas komplain pembacanya.

“Bukankah cuma itu ‘update status’ Anda?” kata si pembaca.

“Hahh....???.”, cak Nono terperangah

“Maksud Anda, Anda hanya membaca secuil penggalan kalimat yang ada di update status saya?” cak Nono bertanya untuk meyakinkan apa yang telah dibaca oleh sang pembaca.

“Betul, memangnya kenapa?”, tanya si pembaca upde status facebook cak Nono.

“Maaf, apakah anda baru memiliki account facebook?”, tanya cak Nono.

“Betul, kenapa?, jawab si pembaca.

“Anda seharusnya ‘klik’, tautan yang sampean baca itu, baru sampean bisa membaca seluruh  posting yang ada di blog saya”, cak Nono menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh pembaca, agar memperoleh informasi tentang tautan, yang ada pada update status pada media sosial.

Dalam hati cak Nono ketawa ngakak, ketika mengetahui duduk permasalahannya, ternyata orang yang berkomentar di facebooknya adalah seorang pemula, yang belum tahu apa yang harus dilakukan untuk membaca sebuah tautan di media sosial.
Read more

Bahagia

0 comments
“Cak, aku dari kecil sampai sekarang tidak pernah merasakan bahagia”, kata kawan cak Nono, saat duduk beristirahat

“Ah, jangan berata begitu, tidak baik, itu namanya mengingkari pemberian Alloh”, kata cak Nono, seolah menasehati sang kawan.

“Bener Cak, yang kurasakan hanya kesedihan melulu”, kata sang kawan.

“Cak, terkadang kesedihan sesaat itu sering kali menghapus kebahagiaan setahun”, kata cak Nono seolah berfilsafat.

“Maksudnya gimana Cak?”, tanya sang kawan.

“ Contohnya begini, saat sampean terima gaji itu bahagia tidak?”, tanya  cak Nono

“Ya, bahagia Cak, wong terima gaji kok tidak bahagia, tapi kan tidak cukup untuk belanja satu bulan Cak”, kata sang kawan

“Nah itu artnya sampean pernah bahagia kan, walaupun sesaat”, kata cak Nono.

“ Cak, bahagia untuk setiap orang itu relatif, tidak sama setiap orang, walaupun ada yang sama namun tidak  sama persis”, kata cak Nono, seolah memberi kuliah.

“Maksudnya Cak?’, tanya sang kawan

“Maksudnya? maksudnya setiap orang pasti mengalami kesedihan dan kebahagian. Jangan pernah berpikir orang yang banyak hartanya itu pasti bahagia, belum tentu Cak”,  jawab cak Nono.

“Ya gak mungkin loh Cak, kalau orang yang hartanya banyak itu tidak bahagia, karena mau apa saja pasti keturutan?”,kata sang kawan, memberi alasan.

“Tidak semua yang ada didunia ini, bisa ditukar dengan harta Cak”, kata cak Nono pendek.

“Kalau sampean tidak percaya, sampean lihat pasien di rumah sakit yang paling mewah dikota ini, disitu rumah sakit digabung dengan hotel, sehingga keluarga si pasien bisa menginap  sambil menunggu sanak saudara yang sedang sakit”, kata cak Nono memberi contoh.

“Apakah mereka bahagia, tidak, mereka juga bersedih karena ada sanak kerabatnya ada yang sakit, walaupun mereka bisa membayar semua ongkosnya, tetap saja mereka juga tetap mengalami kesedihan, juga rasa tidak bahagia”, jelas cak Nono.

“Atau jangan kira orang yang kaya itu selalu bahagia, mereka juga takut bangkrut, sehingga mungkin waktu istirahat mereka akan lebih sedikit dari kita, yang mereka pikirkan adalah bekerja, dan bekerja, sehingga tida punya waktu untuk bersenang senang, apakah itu bisa disebut bahagia?”, cak Nono menjelaskan lebih panjang, seperti dosen saja.

“Apalagi orang yang kaya dari hasil yang tidak benar , misalnaya hasil korupsi, hasil suap, atau hasil mencuri. Jelas mereka tidak akan merasakan ketenangan dalam hidupnya, mereka takut ditangap oleh aparat penega hukum, dan takut masuk penjara”, Jelas cak Nono lebih lanjut.

“Jadi kita harus selalu berusaha untuk  bisa menerima semua rejeki dari Alloh, karena rejeki itu bentuknya tidak melulu berupa harta, karena kesehatan itu juga salah satu bentuk rejeki dari Alloh. Anak yang taat pada orang tua itu juga termasuk rejeki. Coba sampean pikirkan jika sampean punya harta yang banyak, tapi anak sampean nakal, selalu berurusan dengan pihak berwajib , karena pakai narkoba, atau berbuat kriminal lain, apakah sampean bisa merasa bahagia?, tidak bukan?”, cak Nono memberi penjelasan yang panjang lebar seperti ustad saja.

“Benar Cak, kebahagian itu tidak bisa diukur, karena setiap orang berbeda cara merasakannya, dan cara mencarinya?” kata sang kawan.

“Intinya, kalau kta pingin bahagia, kita hurus selalu berbuat jujur dan bersyukur atas semua pemberian dari Alloh, Kalaupun kita diberi sakit, pasti ada hikmahnya buat kita”, lanjut cak Nono.

“Mungkin kita bukanlah seorang pejabat, atau seorang manager sebuah perusahaan, setidaknya kita mempunyai pekerjaan, dengan hasil pekerjaan yang kita kerjakan, kita dapat memberi nafkah yang halal  untuk anak istri kita”, cak Nono menjelaskan lebih lanjut.

“Dan mudah - mudahan, rejeki yang kita peroleh menjadi rejeki yang barokah”, sambung sang kawan.



Read more