Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Bedak Kuda Lumping


Sore itu sekitar pukul tiga sore, di kampung kami ada rombongan kuda lumping yang mempertontonkan keahliannya, menghibur warga kampung kami, tontonan yang berbau magis, orang di kampungku menyebutnya jaranan. Suasana kampung kami sungguh sangat ramai dan meriah, semua orang keluar rumah , baik pria maupun wanita untuk menontonnya , orang dewasa saja pergi menonton apalagi anak-anak, mereka semua sangat antusias menontonnya. Dan kebetulan sangat jarang ada tontonan jaranan atau kuda lumping. Seingatku selama aku tinggal di sini baru kali ini ada tontonan kuda lumping.

Saat itu putra kami baru berusia dua tahun setengah, jadi masih sangat kecil. Rupanya dia juga sangat tertarik dengan bunyi tetabuhan musik pengiring kuda lumping yang sangat rancak menggelora dan meriah itu.

Aku mengajak putra kami menonton jaranan, karena lokasinya memang sangat dekat dari rumah kami. Tetapi ibu mertuaku melarangnya, aku tidak boleh mengajak putraku menonton jaranan itu, para tetangga juga demikian , utamanya mereka yang “generasi” tua-tua, katanya nanti putraku bisa sawanen. Sawan adalah suatu keadaan "sakit" yang tak jelas penyebabnya, bentuk sakit sawan bisa berupa: menangis terus menerus, teriak – teriak, deman, mengigau atau bentuk yang lainnya.

“Nak Sulas, Gadhang jangan diajak nonton nanti sawanen”. Begitu ibu mertuaku melarangku.

“Ya, Mas Sulas, Gadhang jangan diajak”. Sambung tetanggaku turut melarangku.

“ Tapi Gadhang merajuk Bu”. Bantahku, karena memang putraku merajuk untuk mendekat ke tempat tontonan jaranan dimainkan.

Aku tetap mengajak putraku mendekat ke arena dimainkannya jaranan. Aku memang tidak percaya dengan hal-hal yang berbau tahayul, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengajak putraku menontonnya.

Saat menonton jaranan, semua biasa saja, termasuk putraku Gadhang tidak menunjukkan tanda - tanda keanehan, bahkan putraku sangat antusias, ini ditunjukkan dengan dia ikut berjoget menggoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti irama tetabuhan . Aku sangat gembira dan tertawa melihat tingkahnya yang lucu itu.

Ketika tontonan jaranan bubar, putraku mulai menagis, pikirku dia masih belum puas dengan tontonan jaranan tadi, karena sudah selesai, dia aku bujuk supaya tidak menangis sambil aku gendong pulang . Sesampai dirumah putraku tetap menangis, sudahpun sudah dibujuk ibunya dia tetap menangis. Kemudian dia digendong oleh embah putrinya, tetap saja dia menangis. Aku mulai gelisah dengan tangisan putraku itu, aku bingung bagaimana caranya untuk menghentikan tangisnya, karena dia tidak pernah menangis seperti itu. Lama kami berusaha untuk menghentikan tangisannya , tapi tidak berhasil.

“Jangan-jangan Gadhang sawanen jaranan tadi Mak Utik”, tiba-tiba tetanggaku menegur ibu mertuaku.

“Iya kali, Gadhang sawanen”, ibu mertuaku membenarkan tetanggaku.

“ Gini saja, minta bedak yang dipakai berhias pemain jaranan tadi, biasanya anak sawanen akan sembuh”, usul tetanggaku lagi.

“ Ya, Nak Sulas, minta saja bedak barang sedikit pada rombongan jaranan tadi”, pinta ibu mertuaku padaku.

Aku sebenarnya ogah melaksanakan permintaan ibu mertuaku , sebab menurutku itu konyol dan tidak masuk akal, karena aku memang tidak percaya pada hal-hal yang berbau tahayul. Tapi kali ini aku melaksanakan juga, karena aku takut kuwalat dengan ibu mertua dan aku tak mau dianggap tidak peduli dengan yang dialami putraku.

Beruntung rombongan pemain jaranan tadi belum jauh dari kampong kami, walaupun agak susah aku mencari rombongan itu, aku harus berputar-putar di kampung lain, sambil pasang kuping untuk mendengar suara tetabuhan grup jaranan bermain.

Ketika aku mendengar suara tetabuhan dari group jaranan dimainkan aku segera menuju ke arahnya. Kemudian aku mendekati salah seorang dari mereka untuk menyampaikan maksudku. Dia kemudian mengambil tempat bedak dan mempersilahkan aku untuk mengambil secukupnya.

“ Hal seperti ini sering terjadi pada anak kecil Mas”, terang pemain jaranan itu padaku.

“Oleskan saja bedak ini pada ubun-ubunnya, InsyaAlloh waras”, terangnya padaku, dan menjelaskan cara menggunakannya.

Setelah aku memberikan uang terimakasih-ku, aku langsung pulang. Dalam dadaku berkecamuk antara rasa percaya dan tidak percaya dengan tahayul ini.

Sesampai tiba dirumah aku langsung mendekati putraku untuk mengoleskan bedak pemberian rombongan pemain jaranan tadi. Dengan mengucap “Basmalah” aku mengoleskan bedak tadi ke ubun-ubun putraku yang masih menangis.

Putraku sontak berhenti menangis ketika jari tanganku lepas dari ubun-ubunnya, tak lama kemudian putraku sudah mulai menunjukkan kelucuannya kembali seperti sedia kala.

21 comments :

  1. kalau ditinjau lagi mungkin ada hubungan antara sugesti kata-kata dengan perilaku akhirnya...bisa saja terjadi....kalau misal kita tidak percaya....kemudian apa yang terjadi?...wah serba mungkin..
    hal diatas serba bisa dan mungkin, tapi mengenai makhluk lain selain manusia, memang fakta.

    ReplyDelete
  2. hehehe terkdang hal² yang gak masuk akal bisa terjadi Kang,,tapi ada benarnya kita mematuhi kata² orang tua,,bukan berati kita harus percaya dengan hal² tahayyul,,

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaikum Pak,
    Sawanen itu kalo ndak salah kondisi seseorang seperti pandangan kosong dan ndak memiliki ekspresi. Lama saya ndak melihat orang seprti itu Pak.

    Saya pikir mas Gadhang bukan karena bedaknya, tapi karena basmalahnya.
    Wallahu a`lam bish-shawab

    ReplyDelete
  4. pengalaman yang menarik pakde. tapi saya pikir ini salah satu cara jin menjebak kita pada prilaku tertentu. saya juga seing mengalami keanehan keanehan, dan selama ini saya sikapi dengan hati-hati karena takut salah langkah.

    ReplyDelete
  5. sawanen..... yah kata ini sangat kental sekali dengan anak kecil, kepercayaan jawa memang aneh ya.. saya sendiri memang sangat tidak percaya dengan hal tahayyul tapi kenyataan memang ada...

    selama saya di Jogja malah di lingkungan saya ada yang memiliki kerajinan jaranan ini, bahkan anak-anak kecil banyak yang ikutan... hmmm

    ReplyDelete
  6. semoga kita tidak percaya dengan bedaknya ya pak, tapi dengan kekuasaan Allah

    ReplyDelete
  7. apa memang benar demikian to pak dhe yo
    tapi nyatane yo benar bisa berhenti menangis itu
    Alhamdulillah

    ReplyDelete
  8. Kadang-kadang kekhawatiran seseorang bisa menjadi sugesti. Kemarin saya juga heran karena waktu ke manten, temanku yang hamil minta kembang dari penganten katanya biar gak sawanen bayinya.
    entahlah...

    ReplyDelete
  9. blog walking pak de !! kunjungi balik ya !

    ReplyDelete
  10. Mampir sejenak di rumah Pak Dhe untuk menimba ilmu pembelajaran untuk hidup.

    Sukses selalu untuk Pak Dhe sekeluarga.
    Salam
    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  11. hehehe...pakdhe bandel tuh..
    *org tua memang begitu, jangankan jaranan, ndelok manten saja dilarang untuk anak2
    salam

    ReplyDelete
  12. Hal-hal seperti itu sering terjadi Kang, walaupun omongan orang tua sukar dimengerti tapi ada benarnya juga.

    ReplyDelete
  13. sawan sampai sekarang saya malah belum paham apa itu penyakit sawan, jaranan dulu di kota saya pernah populer bahkan sampai kenegri jiran dan brunei, tapi lama kelaman hilang entah kemana seiring perkembangan waktu dan kecanggihan teknologi

    ReplyDelete
  14. Hem... aku malah udah lama ndak liat orang sawanen Pakde... lha orang udah jarang juga aku liat orang nampilin Kuda Lumping atau debus hhe...

    Tapi aku salut ama Pakde, ya biarpun sama kaya aku agak meragukan dan melihat permintaan Ibu mertuamu itu sebagai sesuatu yg konyol ya dari pada kualat mending dilaksanain

    lha klo utusan waras mneh, ya bukan karena bedaknya menuruku tapi karena basmalahnya haha... :D

    ReplyDelete
  15. alhamdulillah sudah sembuh lagi yaaa...Mas Gadhang nya, sudah kembali ceria. memang kalo secara logika siih ga mungkin hanya karena bedak, tapi saya berkeyakinan [sama seperti koment Pak Ies]karena "BASMALAHnya".

    Semoga sukses selalu Pak De n TETAP SEMANGAT

    ReplyDelete
  16. Salam

    Wah, ngebahas sawanen pakde sulas. Ikut menyimak aja deh. Buat catatan sendiri nanti..

    Salam kawan

    ReplyDelete
  17. Aku datang mneh pakde, seperti biasa Sillaturrahim dlu sebelum kemana2 hhe.... klo boleh tau selain Kuda lumping ini ada kejadian yg lain yg serupa gak pakde? kali aja ada kebudayaan atau seni lain yg aku belum tau dan ada cerita gini juga dibaliknya :)

    Selamat berakhir pekan Pakde...

    ReplyDelete
  18. Assalamu'alaikum pak dhe
    Saya dl waktu jd pengantin jg gt. Ada sodara yg minta bedak. Katane biar ga sawanen
    Padahal bedakku belinya di pasar bukan dari dukun xixixi
    Trus di olesne ubun2 si bayi
    Hikz Aneh2 aja yach

    ReplyDelete
  19. saya pun tak percaya dengan hal2 berbau tahayul seperti itu...

    ReplyDelete