Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Melepok

Cak Setu benar-benar sudah kehabisan dana, sehingga sudah tidak ada lagi uang untuk membayar tukang guna meneruskan pembangunan renovasi rumahnya. Sebenarnya rumah Cak Setu sudah dapat ditempati, karena yang kurang hanyalah memfinishing temboknya saja.

Bila Cak Setu merenovasi rumahnya, bukan karena sok kaya atau pingin di ‘wah’ kan tetangga. Tetapi karena rumah Cak Setu selalu kebanjiran bila musim hujan tiba, karena itulah dia membulatkan hatinya untuk merenovasi rumahnya, walau dananya pas-pasan.

Sebenarnya, sebutan yang pas bukanlah merenovasi tetapi ‘bedah rumah’ karena rumah Cak Setu dibongkar total dan didirikan bangunan rumah yang baru. Jadi biaya yang dibutuhkan sama seperti membangun rumah baru.

Karena kehabisan dana itulah ,Cak Setu punya ide untuk meneruskan pembangunan rumahnya dengan “mengerjakan sendiri” pada saat dia libur kerja, toh hanya ‘melepok’ tembok saja.

Sebenarnya istrinya tidak setuju dengan ide Cak Setu, disamping karena selama ini Cak Setu tidak pernah kerja di bangunan, usia Cak Setu juga sudah tidak muda lagi, sehingga dia mudah capek. Tetapi tekat Cak Setu sudah bulat, dia akan mengerjakan sendiri.

“Aku akan mengerjakan sebisa dan semampuku saja kok Bu, aku tidak akan memaksakan diri, disamping itu aku hanya mengerjakan waktu libur saja kok” Cak Setu meyakinkan istrinya, agar diperbolehkan .

“ Tapi Pak, sampean kan sudah tidak muda lagi, nanti sampean capek dan jatuh sakit, nah kalau begitu sampean nantikan bolos kerja, kalau sering-sering bolos kerja sampean nanti dipecat, kalau sampean dipecat kita nanti makan apa? Istri Cak Setu memberi alasan.

“Insya Alloh, aku tidak akan sakit Bu, karena akan aku kerjakan semampuku saja, kalau toh nanti selesai dalam waktu lima tahun juga tidak apa-apa” kata Cak Setu sambil tertawa.

“Ya, sudah , kalau sampean memaksa, yang penting jangan memaksakan diri” istrinya akhirnya menyerah.

Minggu pagi Cak Setu sudah belanja pasir satu geledek dan semen satu zak. kemudian pasir dan semen dicampur dan diaduknya sendiri sehingga rata. Adukan pasir dan semen kemudian diangkutnya sendiri. Mulailah Cak Setu ‘melepok’ tembok rumahnya.

Cak Setu mengerjakannya dengan enjoy, seolah-olah dia menikmati sekali pekerjaanya itu, tiada sekalipun dia mengeluh capai. Sang istrinya dengan setia menemani dengan membuatkan minuman dan makanan untuk suaminya.

“Wah, dikerjakan sendiri saja Ya Cak? enak Cak kalau bisa mengerjakan sendiri, tidak perlu membayar tukang” tiba-tiba tetangga mereka sudah dibelakang mereka dan berkomentar.

“Ya Cak , dari pada nganggur . sebenarnya cuma bisa sedikit-sedikit saja kok” jawab Cak Setu.

“Kalau dikerjakan sendiri tentu ada kepuasan tersendiri kan Cak, toh tidak perlu tergesa-gesa, karena sebenarnya rumah ini kan sudah bisa ditempati” sang tetangga menyemangati.

“Yang tidak tahan itu kan, mengeluh capeknya itu loh Cak” istri Cak Setu menimpali

“Yah, Kita ini kan sudah tidak muda lagi, jadi wajarlah kalau sering mengeluh capek bila bekerja lebih keras, bukankah begitu Cak” sahut tetangganya.

“Ya, begitulah Cak, badan ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, makanya akan aku kerjakan semampuku saja, kalu pas hari libur, kalu toh selesai dalam waktu lima tahun juga tidak apa-apa he he he…” balas Cak Setu sambil terkekeh-kekeh.

“Tak perlulah tergesa-gesa dan memaksakan diri, yang penting selesai kan Cak he he he…” jawab tetangganya juga terkekeh.

Sekitar pukul tiga sore Cak Setu sudah berhenti bekerja, dan meringkas perkakasnya kemudian menyimpannya.

“Sudah selesai Pak?” Tanya istrinya.

“Sudah capai Bu, lain waktu lagi, bila ada waktu libur “

“Dapat banyak Pak” Tanya istrinya lagi.

“Lumayanlah dapat lima meter persegi, Yah, memang sangat jauh hasilnya bila dikerjakan oleh tukang yang beneran ”

Setelah mandi Cak Setu pergi ke tempat tukang jamu, untuk membeli jamu pegel linu guna mengusir capai.

2 comments :

  1. itu jamunya buat ngelemesin otot apa malah buat negangin pakde..?

    ReplyDelete
  2. mungkin untuk keduanya he he he....

    ReplyDelete