Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Aku Sudah Sinting

Pagi itu aku merasakan sesuatu yang aneh, hal yang tidak seperti biasanya. Bu Gatot orang yang paling kaya di lingkungan tempat tinggal kami terlihat mondar-mandir di depan rumahku, tidak biasanya ia begitu. Aku menduga pasti ada sesuatu.

Ketika ibunya arek-arek pulang dari pasar aku mencoba menyelidik, siapa tahu dia punya urusan dengan dia.

“Bu, apa sampean punya urusan sama Bu Gatot kah?”, aku membuka pembicaraan.

“ Enggak Tuh Yah”, jawab istriku pendek tanpa menoleh.

“Siapa tahu sampean punya hutang sama dia”. Aku mengejar lagi dengan pertanyaan

“Ah enggak Yah, buat apa juga aku harus ngutang” jawab istriku sekarang menghadap aku.

“Bu Gatot dari tadi tampak mondar-mandir di depan rumah kita, sepertinya dia nyari sampean, siapa tahu sampean punya hutang”, aku menjelaskan kecurigaanku.

Aku curiga istriku punya hutang pada Bu Gatot, karena Bu Gatot itu memang pekerjaanya merentekan uang . Bu Gatot ini orang yang terkaya di kampungku, suaminya adalah seorang pegawai negeri pada suatu instansi pemerintah, sedang putri dan menantunya juga pegawai negeri. Bu Gatot ini setiap harinya terlihat glamour, bayangkan saja, perhiasan satu toko dipakai semua, mulai dari leher, kedua tangan dan kaki, sehingga persis seperti toko perhiasan berjalan.

Walaupun kami bukanlah termasuk orang yang berada, tetapi aku selalu menekankan pada istriku untuk mengelalola keuangan dengan sebaik mungkin, jika mungkin jangan sampai berhutang kepada tetangga. Jika kami punya hutang itu pinjam pada koperasi tempat aku bekerja, sehingga kami mudah untuk meminij-nya. Pinjaman itu pun bukan digunakan untuk makan sehari - hari, tetapi dibelikan barang perhiasan guna disimpanan, sehingga bisa digunakan bila sewaktu-waktu kami membutuhkannya. Sayangkan jika punya hak untuk meminjam pada koperasi tapi tidak dimanfaatkan.

Sengaja aku berangkat kerja agak lebih lambat, aku ingin tahu ada persoalan apa antara ibunya arek-arek dengan Bu Gatot. Ini aku lakukan agar aku tidak terus penasaran, dan tidak terus menaruh rasa curiga terhadap istriku.

Tak berapa lama kemudian Bu Gatot datang dan menghapiri istriku, yang memang sedang berdiri di depan rumah. Sedang aku sedang berdiri di depan pintu dekat dengan mereka .

“ Ibunya Gadhang, kenapa aku tidak mendapat jatah beras sembako, padahal aku selalu membayar semua iuran yang ditarik oleh kampung ini, kalau begini aku tidak mau membayar iuran kampung lagi……dan seterusnya….dan seterusnya..”, Tanya Bu Gatot terus nyerocos tanpa titik dan koma, dengan bibir bergetar dan wajah memerah menandakan kalau dia sedang gusar.

“Bu Gatot, Sampean itu tidak masuk dalam kelompok saya jadi saya tidak membagi jatah beras untuk sampean ”, jawab istriku dengan tenang.

“Enggak, katanya orang-orang aku ikut kelompok sampean. Katanya pak RT aku juga dapat jatah beras sembako”, sela Bu gatot, dengan terus nyerocos.. Aku berpikir loh orang ini gimana sih sama kelompoknya sendiri saja tidak tahu, lah kok marah-marah sama orang

“ Sebentar ya Bu, aku ambilkan buku daftar warga yang menjadi anggota kelompok saya”, kata istriku dengan sabar.

Kemudian istriku masuk ke dalam rumah untuk mengambil sebuah buku, yang isinya daftar anggota kelompok dasa wisma kelompoknya. Ketika berpapasan dengan aku dipintu istriku cuma tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.

“Ini loh Bu, daftarnya, sampean tidak masuk dalam kelompok saya, jika sampean belum dapat jatah beras, mungkin belum gilirannya. Coba nanti saya tanyakan pada ketua kelompok yang lain. Siapa tahu nama ibu kesingsal “, istriku coba menjelaskannya dan berjanji untuk membantunya.

“Membeli beras yang paling mahalpun saya mampu, tapi ini adalah hak saya, saya akan tetap meminta jatah saya”, Bu Gatot mulai menunjukkan kesombongannya dengan kata yang masih berapi-api.

“Memangnya beras jatah sembako ini Bu Gatot mau memakannya?”, aku mencoba menyela bertanya.

“ Ya enggaklahhh, mana mungkin saya mau makan beras kayak gitu”. Jawab Bu Gatot dengan sombong

“Terus berasnya untuk apa Bu, mungkin mau disumbangkan?” Tanyaku lagi..

“Ya saya jual lagi, lumayan kan ”. Dia menjelaskan padaku dengan nada yang masih ketus.

“ Begini saja Bu, nanti saya cari tahu kenapa sampean belum dapat beras”. Ujar istriku pada Bu Gatot.

“ Baiklah, terima kasih sampean mau membantu saya”, ujar Bu gatot pelan, tapi masih bersungut-sungut.

Kemudian dia pamit undur diri dengan muka yang masih bersungut-sungut. Tetapi aku masih penasaran denga kejadian tersebut.

“Dapat berapa kilo sih Bu” Aku bertanya pada istriku.

“Dapat lima kilo yah”, jawab istriku

“Berapa harganya ?” tanyaku lagi

“Dua ribu rupiah perkilo”, jelas istriku.

“ JABAAANG BAYIIIIIIII!!!!!” , Aku berseru keras, kemudian tertawa terbahak-bahak, karena tidak kuat menahan rasa ingin tertawa.

“ Kenapa sih Yah”, istriku heran melihat aku yang tiba-tiba tertawa begitu.

“ Masa orang sekaya Bu Gatot, masih ngurusin beras sembako seharga sepuluh ribu rupiah, kayak kehilangan duit bermilyard-milyard ,apa kagak salah tuh orang. Dunia ini mungkin benar-benar mau kiamat”, Aku menjelaskannya sambil terus tertawa.

“Husss!!!, Yah, Nanti kedengaran sama Bu Gatot”, istriku mengingatkanku.

Aku berangkat kerja, dengan masih teringat kejadian pagi itu. Aku senyam –senyum sendiri sepanjang perjalanan.

Jangan –jangan orang mengira aku sudah sinting he he he…...

20 comments :

  1. memang parah tuh bu gatot ya pakde... untung di RT ku ga ada yang seperti itu,, wkwkwk

    ReplyDelete
  2. waktu program BLT pun banyak yang ngaku miskin...

    ReplyDelete
  3. malu...payah, itu gambaran yg bagus utk "cerdas" dalam urusan materi, "mumpung masih hidup dan berakal untuk berpikir kreatif dalam menghalalkan segala cara"...weiks amburadul

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum,
    Entah ini kisah nyata ato bukan, yang jelas Bu Gatot telah mewakili banyak orang yang berkarakter hawa nafsu duniawi yang tidak pernah merasa puas terhadap apa yang dimiliki dan bahkan dengan itu kedengkian sering kali muncul ketika melihat orang lain memperoleh nikmat.
    Semoga kita dijauhkan dari yang demikian. AMiin

    ReplyDelete
  5. asswrwb, astagfirullah...mudah2an kita tdk trmsk org spt itu Pak De..*geleng2 kepala, yg pntg hidup ayem, tentrem, bahagia dunia-akhirat....Amin.

    ReplyDelete
  6. wkwkwkw...parah banget tuh Pakde,,kasian deh kaya tapi gak bisa menikmati kekayaannya...

    ReplyDelete
  7. duuh..udah..kaya..kok masih..menjadi..orang..miskin..

    ReplyDelete
  8. asalamualikum pak de...
    waduh menurut saya ya ndak sinting to pak de, saya aj yang baca juga ikutan ngakak ap jangan2 saya sudah sinting juga he2..
    manusia itu memang mahluk yang tidak pernah "merasa puas" atas apa yang sudah dianugerahi kurang, kurang, kurang dan pingin lebih lebih dan lebih lagi..hmmmm
    saya setuju dengan pak Sofyan, udah kaya masih menjadi orang miskin, padahal orang miskin pingin jadi kaya he2....
    hmm..y weslah kita ambil hikmah dari kejadian2 seperti ini yang memang banyak terjadi di negeri kita.
    sugeng siang pak de, Sukses Slalu!

    ReplyDelete
  9. orang begini kalo dikampung saya suka dibilang "orang yang tainya dikasih bendera" dan yang beginian ternyata banyak sekali lho pakde. semoga tidak menimpa kita.

    ReplyDelete
  10. Untung cuma cerita ya.. kalo ada yg beneran kayak gitu wah.. :)

    ReplyDelete
  11. saya rasa banyak Bu Gatot - bu gatot lain di Indonesia ini. mereka yang mampu tetapi tetap saja menggunakan layanan2 yang diperuntukan bagi yang kurang mampu.
    Salam masjier

    ReplyDelete
  12. salam,
    saya setuju komentarnya Bunglon Blog Indonesia, sepertinya bu Gatot sudah bosan menjadi orang kaya karena terlalu lama hh......
    salam kenal pakDe, boleh follow

    ReplyDelete
  13. Yaelah.. tuh orang maruk amat.. semoga segera insyaf

    ReplyDelete
  14. Pakdhe memang sinting,, tetapi yang lebih sinting Bu gatotnya.. sampe-sampe pakdhe ketularan Sintingnya.... Sepuluh ribu dengan bermilyard-milyard hahaha.......

    ReplyDelete
  15. Aku tidak sinting tetapi celaka ...
    apalagi sinting pasti akan lebih celaka ... .
    minjem dari doel soembang)

    sesuatu yang gratis atau murah di lingkup RT pasti akan jadi pergunjingan ... kenapa aku tidak mendapatkan ... kenapa mesti mereka-mereka yang mendapatkan ... itulah dinanika kehidupan lingkup kampung ....

    ReplyDelete