Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Kisah sang Komitmen

Kisah ini untuk menyambung dari kisah terdahulu, Bocah Tua Berkumpul

Sudah sangat lama sekali kami tidak bertemu. Yah….kira-kira kami sudah dua puluh tahun tidak pernah bertemu. Aku sangat ingat dengan kawan yang satu ini, karena dia memang spesial . Dia adalah teman saat kuliah , setelah wisuda kami berpisah untuk mengadu nasib dan mencari peruntungan masing-masing. Kami bertemu terakhir bulan Oktober tahun sembilan belas sembilan puluh, saat wisuda. Setelah itu kami ke “kandang” masing-masing.

Kawan yang satu ini memang sangat sepesial, karena komitment-nya. Dia kalau berjanji pada siapapun selalu ditepati, pantang bagi dia ingkar janji. Pernah seorang kawan lain kehabisan bekal , dia tidak bisa bayar kuliah, akhirnya dia pinjam uang kepada kawanku yang memegang “komitmen” ini. Kawan lain itu berjanji akan mengembalikannya pada tanggal dan bulan yang telah disepakati. Eantah lupa atau belum punya uang untuk mengembalikannya, saat hari “H” kawanku yang “komitmen” menagih janji, dan kawanku yang lain itu tidak bisa memenuhi janjinya. Kawanku yang “komitmen” itu tidak marah, dia hanya bilang “ Yah.... sudahlah”.

Beberapa waktu kemudian, sang kawan lain itu datang menemui kawan “komitmen” untuk mengembalikan pinjamannya dahulu. Apa yang terjadi? Sang kawan “komitmen” itu tidak mau menerimanya, bagi dia , kawanku yang lain itu sudah dianggap ingkar janji, seharusnya dahulu sebelum jatuh tempo sang kawan lain itu sudah menemui dia untuk memberitahu jika pengembaliannya ditunda watunya.

Pada pertemuan kali ini, dia tetaplah sama seperti yang dahulu, “ sang komitmen”. Bedanya rambutnya sudah mulai rontok alias botak dan giginya sudah banyak yang tanggal, alias ompong. Dia banyak menceritakan tentang bisnis dan keluarganya dengan gaya “komitmen”.

“ Setiap anggota keluarga mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Aku meminta mereka menulis komitmen-nya masing-masing sebagai anggota keluarga. Aku menulis daftar kewajibanku sebagai kepala keluarga, istriku menulis daftar kewajibannya sebagai istri dan sebagai ibu dari anak-anak, sedang anakku menulis daftar kewajibannya sebagai anak dan pelajar, aku meminta mereka untuk memenuhi komitmen yang telah dibuat”. Dia bercerita bagaimana dia “meeting” dengan istri dan anak-anaknya

“Aku tidak mau seragam sekolah , sepatu, tas terlihat kotor, kumal apalagi sobek” dan " Istriku harus komitmen dengan tanggung jawabnya”. Dia menyambung ceritanya.

“ Aku tidak mau melihat angka dibawah 8 diraport kamu”, juga aku tekankan kepada anak-anakku” . Ceritanya dengan berapi-api.

“ Akupun melaksanakan komitmenku sebagai kepala keluarga, semua kebutuhan istri dan anakku aku penuhi”. Ceritanya masih berapi-api.

Dia juga bercerita waktu dia diundang Bapak Bupati ke gedung kabupaten, atas prestasi anak-anaknya, yang selalu meraih ranking terbaik sekabupaten. Dia juga menceritakan bila putri sulungnya sekarang kuliah di perguruan negeri terkenal di kota Malang, selalu mendapatkan indeks pretasi (ip) empat.

“ Tempo hari aku baru beli motor untuk anakku yang nomer dua, karena dia minta dibelikan motor jika ranking satu, dan aku menyanggupinya, walaupun dibeli secara kredit”. Dia melanjutkan ceritanya.

“Sampean tahu, padahal motor itu juga tidak pernah dipakai anakku”. Lanjutnya lagi.

“ Buat apa beli motor mahal-mahal jka tidak dipakai, bukankah itu pemborosan”. Gumanku dalam hati

“ Apakah anak-anakmu tahu nilai raport kamu dahulu?”. Aku menyelutuk

“ Huwaha.ha..ha…ha…wkkk…wkkk… tentu saja tidak tahu” sang “komitmen” tertawa terbawak-bahak

kami semua turut tertawa, karena kami sangat paham dengan prestasi “sang Komitmen”

14 comments :

  1. Wah...komitment alias amanah sekali ya kawan pakde ini. Pasti senang bertemu lagi. Heboh!!!!

    ReplyDelete
  2. wahhh penerapan standard yg lumayan tinggi tuk sebuah nilai :(

    ReplyDelete
  3. Hehe.. suasana yang indah ya Pakde. Saling mengenang, saling bersenda dan saling bercerita..

    ReplyDelete
  4. benar2 berkomitmen tuhh dgn aapa yg di ucapkannya gak sperti pemimpin2 kita janji2 bualan aja setelah terpilih LUPAAA deeh ..

    ReplyDelete
  5. Walah, saya yakin bakalan cerita lagi tentang kopdar amburadul kemarin.

    Tentang si komitmen yang ndak kebagian aer.

    ReplyDelete
  6. assalamu'alaikum PakDhe
    mengenal kebiasaan dan pribadi orang lain bisa menjadi cermin untuk kita ya Pak Dhe.
    ada banyak hal menarik dari Kang Komitmen ini

    ReplyDelete
  7. bisa berkomitmen dengan lugas tapi tidak kaku. karena bisa jadi bumerang nantinya.

    ReplyDelete
  8. Mencontoh dari seseorang sahabt nih untuk trus berkomitmen,,hehehe

    ReplyDelete
  9. komitmen adalah sebuah tali dimana dia akan menyimpulkan dan mengikat satu sma lain...

    ReplyDelete
  10. teman-teman yang hebat pakde. saya rasa teman saya tak ada yang sehebat teman pakde. tapi mungkin karena saya tak punya banyak teman.

    ReplyDelete
  11. wah....
    memng nilai raport sang komitment seperti apa pak de????

    ReplyDelete
  12. teman pakde ini ptut ditiru....

    ReplyDelete
  13. kl semua bisa komit dg aturannya ya enak PakDe, tp ya kasian jg kl terlalu ketat aturannnya.... lawong anak2 msh kecil kl terlalu saklek ya repot...^_^

    ReplyDelete
  14. Hidup ini yang paling berat adalah menjaga komitmen ya Pak De. Karena rasa itu telah tipis dalam kehidupan sekarang ini.

    Senang membaca postingan Pak De, yang masih menjaga komitmen persahabatannya.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete