Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Dasar !!! Anak Udik ( kisah udik)

Anda boleh mencibir bila membaca kisah masa kecilku, karena kisah-kisah seperti itu tidak banyak yang mengalaminya. Ketika kisahku ini aku ceritakan pada putraku, dia juga tertawa terpingkal-pingkal. Entah nanti bila kisahku aku ceritakan pada cucu-cucuku, mungin mereka akan ketawa sampai perutnya mules he he he……

Baiklah aku akan menceritiakan “secuil” dari masa kecilku. Tidak usah banyak-banyak, kalau aku ceritakan semua Anda pasti malas membacanya wkkkk wkkkk. Akupun akan kehabisan ide… he he he…..

Aku mulai yah.. Cak.

Aku datang di Surabaya tahun 1975, tentu saja kota Surabaya belum sepesat sekarang, saat itu belum ada mall, ataupun supermarket apalagi hypermart. Saat aku datang di Surabaya usiaku sekitar sembilan tahun, yang aku ingat saat itu aku baru kelas tiga sekolah dasar. Aku menyusul kedua orang tuaku ke Surabaya, orang tuaku lebih dulu tinggal di Surabaya, sedang aku sebelumnya tinggal bersama kakekku di desa.

Sebagai anak dari udik, tentu aku sangat kagum dan terpesona dengan keramaian kota. Sangat jauh dengan kota asalku yang sangat sepi, kalau malam yang terdengar hanyalah suara jengkerik, kodok ngorek atau suara pepohonan yang diterpa angin wesss….wesss….krieeeek……krieeek. Aku benar-benar terpesona dengan ke megahan kota Surabaya.

Bila malam di desa asalku yanga ada hanyalah kegelapan malam yang diterangi lampu ublik, lampu teplok, atau oncor (obor dari bambu). Malam yang paling ditunggu adalah malam bulan purnama, malam menjadi terang karena sinar rembulan. Sedang di kota waktu malam diterangi lampu berwarna –warni yang yang sumber dayanya dari listrik. Sungguh pemandangan yang sangat mencengangkan aku. Saat itu listrik belum ada di kota asalku.

Ada sesuatu yang sangat mencengangkan dan mempesona aku, mataku benar benar terbelalak kagum melihatnya ketika kali pertama malam kulalui. Saat sore hari menjelang malam ibuku menyalakan lampu penerangan rumah, aku kagum bukan kepalang, karena lampu langsung menyala ketika tangan ibu menekan stop kontak sehingga terbunyi “cetek”, dan B Y A R, lampu lansung menyala, kalau di desa untuk menyalakan ublik kami harus isi minyak tanah dahulu kemudian baru api dari korek diyalakan, baru deh lampu menyala. Itupu tidak seterang lampu listrik.

Yang lebih membuat aku terbengong bengong, ketika lampu yang menyala adalah lampu TL. Karena aku mengira yang menyala itu adalah ares pohon pisang. Aku tidak habis pikir “ares” kok bisa menyala. Bagi Anda yang di desa pasti tahu “ARES”. Ares itu adalah hati pohon pisang yang sudah berbuah, jadi kalau pisang belum berbuah maka dia tidak bunya ares atau hati pisang, ares warnanya putih, ares ini terbungkus gedebog( kulit pohon pisang).

Aku benar-benar menjadi anak yang nggumunan, karena memang semua serba baru bagi aku. Semua yang kulihat bagai sihir .

Dasar anak udik!!!.

11 comments :

  1. orang kota pun, kalau belum terbiasa dengan sesuatu yg baru terkadang terlihat "udik" Pakde ^_^...

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum Pakdhe
    saya juga dari lereng gunung semeru ketika berhadapsn dengan majunys 'peradaban' maka ada banyak hal yang mengagumkan

    ReplyDelete
  3. Orang kota kalau ke desa juga gumunan.

    contoh : Uihhhh, hijaunya, rasanya seger udara disini !

    ReplyDelete
  4. itu dia sensasinya anak desa masuk ke kota pakde, jadi ingat pertama kali liat gedung tinggi ko' bisa nggak jatuh ya gedung setinggi ini hhi..

    salam kenal pakde :)

    ReplyDelete
  5. saling sawang sinawang Pakde,,

    ReplyDelete
  6. saya waktu seumuran pakde kecil pernah datang ke surabaya tapi nggak ingat banyak hal. mungkin karena cuma lewat, waktu itu saya mau ke madura sama keluarga. yang saya ingat di surabaya ada bis PPD tingkat seperti di jakarta dan ada juga bajaj. waktu jalan-jalan ke wonokromo juga nggak ingat lagi.

    ReplyDelete
  7. hihihi.... kl skrg sdh mboten nggumunan maleh tho Pak De??...^_^

    ReplyDelete
  8. Dengan segala kerendahan hati Ejawantah’s Blog menghantarkan Blogger Award 2011 secara bergulir kepada sahabat, dan Award dapat diambil di http://ejawantahnews.blogspot.com/2011/06/menerima-menebar-harta-karun-dari-dunia.htm.

    Dan selamat pagi sahabat semua, selamat bergembira, dan tetaplah semangat. Sukses selalu.

    Salam
    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  9. 1975 sudah singah ke surabaya usia 9 thun usia segitu lagi seneng2nya mainn tuhh..! anak udik duluu la skarang kan jadi anak kota

    ReplyDelete
  10. dengan melihat hal baru pasti nggumun pak dhe
    akupun juga tapi yang penting kita menjadi lebih tahu dari sebelumnya

    ReplyDelete
  11. hahahaha proses belajar pakde :D

    ReplyDelete