Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Nenek dan Cucunya.

Setelah beberapa waktu kita ngomongin dan menelanjangi pemerintah dan DPR , sekarang penulis beralih sejenak ke topic lain, agar penulis tidak bosan dan terjebak pada sikap apriori terhadap pemerintah dan lembaga wakil rakyat. Bahkan bisa-bisa penulis dicap sebagai blogger oposisi atau kekiri-kirian kan bisa jadi berabe he he he….

Disuatu siang yang terik terlihat kerumunan orang di dekat rumah, mereka sedang mengerumuni seseorang, entah siapa. Aku mencoba untuk mendekati kerumunan itu untuk mengetahui apa yang terjadi. MasyaAlloh, tak terasa aku berguman menyebut nama Alloh. Disana tergeletak seorang nenek-nenek yang tampaknya sedang sakit atau kelelahan sehingga dia pingsan. Didekat nenek itu tampak bocah laki-laki kecil sekira berumur tiga atau empat tahun yang sedang menangisi nenek yang sedang pingsan itu.

Beberapa orang tampak sibuk memberi pertolongan kepada nenek itu, diberinya bau-bauan dekat hidung sang nenek agar dia cepat sadar dari pingsannya. Benar juga tidak seberapa lama kemudian sang nenek itu tersadar, ketika sadar nenek itu menangis seraya memeluk anak kecil yang sedari tadi menangisinya.

Ketika keadaan sang nenek sudah membaik, ditanyailah nenek itu mereka sedang apa dan mau kemana. Nenek itu menceritakan kalau dia sedang mencari anaknya yang sudah lama tidak pulang, dan anak kecil itu adalah cucunya. Nenek itu juga menceritakan bila sedari kemarin mereka belum makan.

Semua orang tampak iba sehingga tidak segan-segan memberi bantuan baik berupa uang , makanan dan bentuk bantuan lainnya kepada nenek itu. Setelah benar-benar sehat kembali nenek itu kemudian pamit pergi untuk meneruskan perjalannya untuk mencari anaknya.

Beberapa hari kemudian ketika aku sedang berjalan-jalan dengan istri dan anak semata wayangku, tampak dikejauhan beberapa orang sedang berkerumun, karena searah dengan tujuan kami, maka kami sempatkan untuk mendekati kerumunan itu untuk melihat apa yang terjadi.

Betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa yang dikerumuni orang-orang itu adalah nenek yang sama dengan nenek yang tempo hari pingsan di kampong kami.  Bedanya cuma bocah  yang menagisinya kalau kemarin lusa yang menangisinya adalah bocah laki-laki sekarang berganti bocah perempuan sekira berumur tiga atau empat tahun.

“ Diamput, Wong tuwek iki tibane cumak sandiwara thok”, Tiba-tiba terdengar seseorang setengah berteriak, kami semua menoleh kepadanya, ternyata orang orang yang berteriak tadi, Lik To, tetangga kami yang memang perangainya rada kosro ( agak kasar dan brangasan).

Salah seorang yang mengerumuni nenek itu bertanya pada Lik To

Orang itu: Apakah sampean kenal nenek itu?

Lik To: Kenal sih tidak, tapi orang itu tempo hari juga pura-pura pingsan ditempat saya, Cuma yang diajak bukan anak perempuan seperti sekarang, tetapi anak laki-laki mungkin umurnya sama.

Setelah mendengar penjelasan Lik To, seketika orang yang berkerumun itu bubar . Dan Sang nenek ketika rahasianya terbongkar dia cepat bangkit dan meninggalkan tempat itu.

16 comments :

  1. dunia...dunia...sudah menjadi...

    ReplyDelete
  2. Wah takutnya kalo betul ada kejadian yg butuh pertolongan jadi trauma karena ulah penipu

    ReplyDelete
  3. benar kan Pak Dhe, kata Kang Ahmad Albar.... dunia ini ... panggung sandiwara .....

    seringkali kita terjebak dan kesulitan membedakan antara orang yang benar-benar fakir miskin dengan orang yang berlagak miskin agar mendapatkan belas kasihan orang lain.
    Bahkan orang yang berdasipun seringkali berlagak miskin, buktinya masih saja ada orang yang mengharapkan amplop tebal jika diminta tolong orang lain, padahal orang yang minta tolong justru secara ekonomi lebih babak belur. dunia ... dunia ....
    Benar bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah permainan
    .....
    Sugeng dalu Pak Dhe ... mugi wilujeng rahayu

    ReplyDelete
  4. Ada banyak cara dilakukan untuk mencari uang, ada yang korupsi, menipu, mencuri, dan tidak sedikit orang yang bekerja keras memeras keringat demi mendapatkan uang. Apa yang dilakukan nenek ini untuk mendapatkan uang sagat buruk sekali, mengemis saja sudah buruk apalagi ditambah dengan berbohong. Entah apa hukumnya menikmati uang dengan cara itu...
    Terimakasih Pakde... :)

    ReplyDelete
  5. wah ngeri juga tipu muslihatnya........ cocok tu buat maen teater..... :/

    ReplyDelete
  6. dunia memang panggung sandiwara, dengan opera yang sudah mulai gila...


    salam hangat. oia pak, link http://azhariaf.blogspot.com "Bang NgangaN" mohon dipasang di blogrollnya ya... link Pak Dhe sudah saya pasang

    ReplyDelete
  7. wah si nenek ngapusi tok ae pakdhe yo.
    pantesan ae lik To kosroh ngono
    Yo mestinya mangkel pak lik

    ReplyDelete
  8. hahahaha neneknya jago maen teater sob, hebat-hebat salam ya sama nenek itu hehe :D

    ReplyDelete
  9. wakakaka...wah kalau seperti itu di tempatku banyak pakde... seribu cara untuk mendapatkan uang termasuk penipuan.

    ReplyDelete
  10. arep dimarahi namanya juga nenek-nenek tentunya banyak yang tidak tega melakukannya pakdhe

    ReplyDelete
  11. Lik To jadi ikutan naik pitam jika orangnya itu itu saja mulu

    ReplyDelete
  12. Walah.. ki podo karo aku pakde.... nek aku waktu di angkot pakde..... waktu itu ada nenek2 arep muleh ke kampung ra ndue uang... nah tak ke'i 20 rb lha wong kampung'y cuma 1 jam dari tempatku itu... eh waktu aku berangkat paginya.. nenek itu lagi yang aku liat dan sama kaya kemarennya si nenek bilang ndak punya uang untuk pulang kampung.... halah2... Indonesia ku blum Raya nie hhe....

    tapi aku nggeh ra nyalahi si nenek wong terpaksa untuk hidup biarpun caranya slah...

    Maaf telat ki aku pakde... semangat n happy blogging.. !

    ReplyDelete
  13. wahh
    pnipuan dimana mana
    hmmm rumahnya dicat ulang ya pakdhe
    keren nuy
    :D

    ReplyDelete
  14. hihihi....pak de ketipu. tapi kita harus maklum pak de, jaman susah. yang salah pengelola negri ini yang telah memproduksi manusia demikian banyaknya

    ReplyDelete