Tim Van Damme Pakde Sulas

Me

Blog

Balada Bik Minah

M
alam semakin larut tapi Bik Minah belum juga tidur, matanya menerawang ke atas, memandangi langit -langit tempat tidurnya, langit -langit tempat tidurnya sesekali bergetar karena ada mobil yang besar lewat di atasnya, yach.. karena Bik Minah memang tidur di kolong jembatan tol.

Sungguh tragis nian kehidupan Bik Minah ini, sekitar tahun delapan puluhan , kehidupan Bik Minah boleh dibilang sangat cukup atau kaya. Suami Bik Minah kerja di perusahaan daerah , dimana suaminya dibagian lapangan, yang tentu saja banyak ceperan yang di dapat.

Mungkin sudah menjadi tabiat manusia apabila mudah mendapatkan sesuatu, maka dia menyia-nyiakan apa yang telah didapatnya, demikian juga dengan Bik Minah dan Suaminya, mereka suka berfoya - foya.

Bik Minah mempunyai seorang anak laki-laki, sebut saja Gianto, anak ini juga tidak dididik denga baik, semua keinginannya selalu dituruti, sehingga si anak menjadi anak yang penuntut.

Ketika sang anak telah dewasa dan berumah tangga, mulai menemukan kesulitan dalam kehidupannya, dia tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, dia selalu meminta uang kepada orangtuanya untuk membiaya hidupnya dan istrinya.


Ketika suami Bik minah meninggal dunia, semua berubah cepat, hampir semua peninggalan suaminya terjual habis, disamping untuk pengobatan suaminya ketika masih sakit, juga peninggalan suaminya dijual untuk membiayai kehidupan anak dan menantunya.

Bik Minah akhirnya ngontrak rumah, yang ditempati dengan anak dan menantunya. Anaknya mulai mau bekerja walaupun sebagai buruh tenaga kasar dengan penghasilan yang tidak seberapa, jangankan untuk menghidupi ibunya, untuk dia dan istrinya saja tidak cukup.

Karena tidak tahan melihat hidup anaknya yang demikian sengsara, akhirnya Bik Minah memutuskan untuk keluar dari kehidupan anaknya, dia memilih untuk mbambung dibawah kolonng tol.

Mengemis, ya itulah cara yang paling mudah untuk bertahan hidup, Bik Minah mengemis dan meminta-minta di luar kampungnya dahulu, karena dia malu kalau diketahui tetangganya dahulu, walapun begitu tetangganya tetap tahu kalau Bik Minah sekarang menjadi seorang Mbambungan dan pengemis

Oh tragis nian kehidupan Bik Minah



7 comments :

  1. cerita yang memprihatinkan..., waktu masih jaya mungkin kurang banyak bersyukur..

    trims atas pencerahannya, suksess selalu n tetap semangat

    ReplyDelete
  2. @ Mas Harto: terimakasih telah sudi berkunjung dan berkomentar, moga bermanfaat

    ReplyDelete
  3. Saat orang berada diatas, dipuncak kesuksesan mereka sering kali lupa klo kehidupan ini laksana roda yang selalu berputar, kadang diatas kadang dibawah.. Kadang senang kadang susah..

    ReplyDelete
  4. @ Lina Marliana: itulah manusia, sering lupa dan mabuk harta, saat tersadar yang tertinggal hanya penyesalan

    ReplyDelete
  5. sungguh suatu cerita yang menggugah hati..
    maaf pakde, saya pengen tahu apakah ini kisah nyata ?

    ReplyDelete
  6. ini kisah nyata, keadaan dia yang sebenarnya jauh lebih menyedihkan

    ReplyDelete
  7. dimanakah alamat sinenek itu juragan :D

    ReplyDelete